TRENDING NOW

SYIRIK

KOMUNIS

syiah, Cyber Tauhid
Di pict ini adalah salah satu Cebong berbaju salaf yang selalu mengerogoti umat islam untuk mengadakan perubahan di negri ini.

Apapun kata ulil amri mereka harus di taati....Demokrasi adalah bagian dari ulil amri ente bong...


Kami ingin mengadakan perubahan, karna ulil amri ente zholim terhadap umat Islam..dengan cara demokrasi, kita gulingkan ulil amri ente di pemilu dan ini adalah sah menurut undang undang ulil amri ente bong..

Sesungguhnya mereka lebih berbahaya dari pada kecebong yang ada, Mereka menyambar nyambar hanya dengan menggunakan beberapa hadits, tapi mereka melupakan puluhan hadits yang ada.

Kaum mereka seperti kaum sufi tanpa ghirah terhadap umat Islam, kaum mereka adalah kaum pemecah belah umat Islam yang mendambakan persatuan

Kami ingin bersatu di atas 4 Mazhab Besar tapi mereka selalu tampil beda dengan menonjolkan kaum mereka sendiri

Terus terang ane dulu selalu berada di antara kajian kajian mereka, tapi melihat fenomena yang ada sekarang ini, dengan terpaksa ane tinggalkan

Semoga Ghirah Islam Kalian tidak luntur hanya karna berpedoman dari beberapa hadits..tapi melupakan puluhan hadits


syiah, Cyber Tauhid
Pembahasan tentang Syiah tidak bisa dipisahkan dengan pembahasan politik yang menjadi agenda besar mereka. Jika dibandingkan dengan Sunni, bisa jadi Syiah lebih politis. Syiah sendiri lahir dari latar belakang politik, yaitu sengketa tentang siapa yang lebih berhak menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sepeninggalnya. Masalah politik dan kekuasaan inilah yang menjadi sumber penyimpangan Syiah dari Sunni.

Secara ideologi, Syiah menganut sistem pemerintahan imamah, yaitu doktrin politik yang menyebutkan bahwa pemerintahan Islam sepeninggal Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hak mutlak Ahlul Bait, yakni Ali bin Abi Thalib dan sebelas keturunannya. Ini adalah hak mutlak, tidak seorang pun berhak mendapatkan atau merampas hak kepemimpinan ini. Namun sepeninggal dua belas imam, mereka mengalami kebuntuan karena kekosongan kepemimpinan yang menjadi rujukan mereka dalam berbagai persoalan hidup. Maka, lahirlah ijtihad Wilayatul Faqih yang penerapannya dimulai masa kepemimpinan Khomeini pasca Revolusi Iran.

Apa itu Wilayatul Faqih?

Menurut ulama Syiah, Wilayatul Faqih adalah kedudukan seorang Fakih yang memiliki kapasitas menyeluruh karena memiliki syarat-syarat dalam memberikan fatwa dan hukum, kedudukannya setara dengan hakim syar’i, pemimpin tertinggi dan al-Imam al-Muntadzar (Imam kedua belas yang ditunggu kedatangannya) di zaman gaibnya. Tugasnya berupa: memberikan kebijakan politik, mengatur segala urusan, menyiapkan berbagai bekal untuk jihad ofensif, yaitu penaklukan negeri-negeri kafir dengan pedang serta wilayah yang berada di luar kekuasaannya. (Ahmad Fathullah, Mu’jam al-Alfadz al-Fiqh al-Ja’fari, hlm. 453)

Maka diketahui di sini bahwa seorang fakih adalah perwakilan dari Imam al-Muntadzar atau  Imam Mahdi versi Syiah dalam berbagai urusan, seperti hukum, penarikan khumus  yaitu lima persen dari pendapatan, Amar ma’ruf, nahi munkar dan jihad. Padahal syiah dan ulamanya telah berlalu bertahun-tahun hingga masa sebelum Khomeini tidak berpandangan demikian.

Dalam perjalanan pemikirannya, Khomeini tidak serta merta berijtihad sendiri dalam melahirkan konsep Wilayatul Faqih. Gagasan Wilayatul Faqih ini dimulai oleh seorang pemikir Syiah yang dijuluki al-Muhaqqiq ats-Tsani, yaitu Ali bin al-Husain al-Karki. Al-Karki menyebutkan dalam bukunya Jami’ul Maqashid 1/33bahwa siapa yang menyelisihi hukum seorang mujtahid maka hukumnya sama dengan syirik, terlaknat dan murtad. Dari sini, al-Karki membangun pondasi gagasan Wilayatul Fakih dengan mencampurkan wilayah ulama ke dalam pemerintahan dan politik.

Setelah itu, datang lah Ahmad an-Niraqi yang mengembangkan pemikiran tersebut. Melalui bukunya ‘Awa’idul Ayyam halaman 536, ia menyebutkan bahwa tugas Fakih sebagaimana tugas para Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Imam setelahnya, maka semua perkara manusia, baik urusan dunia dan akhirat, dikembalikan kepada seorang Fakih. Dari sini, an-Niraqi memberikan legalitas bagi seorang Fakih untuk memegang kendali pemerintahan sekaligus sebagai ganti para imam.

 Kemudian, datang lah al-Khomeini yang mengumpulkan gagasannya tentang Wilayatul Faqih dalam sebuah buku khusus. Buku yang diberi judul Wilayatul Faqih itu berisi pandangannya tentang Wilayatul Fakih, urgensinya di masa sekarang hingga dalil-dalil yang dipaksakannya. Sehingga gagasan ini benar-benar dilaksanakan dalam sebuah sistem Negara pasca revolusi Iran yang ia pimpin.

Wilayatul Faqih, Konsep yang Berbahaya

Khomeini menarasikan konsep ini dan mengajak para pengikutnya untuk meyakini pentingnya mendirikan Negara yang dipimpin oleh wakil dari Imam Ghaib. Khomeini mengatakan:

واليوم – في عهد الغيبة – لا يوجد نص على شخص معين يدير شؤون الدولة، فما هو الرأي؟ هل تترك أحكام الإسلام معطلة؟ أم نرغب بأنفسنا عن الإسلام؟ أم نقول إن الإسلام جاء لحكم الناس قرنين من الزمان فحسب ليهملهم بعد ذلك؟ أو نقول: إن الإسلام قد أهمل أمور تنظيم الدولة؟ ونحن نعلم أن عدم وجود الحكومة يعني ضياع ثغور الإسلام وانتهاكها، ويعني تخاذلنا عن أرضنا، هل يسمح بذلك في ديننا؟ أليست الحكومة تعني ضرورة من ضرورات الحياة؟

“Hari ini -di masa persembunyian imam- tidak ada satu orang yang ditunjuk untuk menjalankan pemerintahan negara. Lalu apa pendapat kalian? Apakah hukum Islam harus dibiarkan tidak diterapkan? Atau kita sudah benci kepada Islam? Atau kita mengatakan bahwa Islam hanya turun untuk mengatur kehidupan manusia selama dua abad saja, lalu membiarkan manusia sesudahnya? Atau kita ingin mengatakan: bahwa Islam telah mengabaikan urusan pemerintahan negara? Dan kita semua tahu bahwa tidak adanya pemerintahan mengakibatkan wilayah kekuasaan Islam akan diserang musuh, dan artinya kita akan diam ketika musuh masuk ke wilayah kita. Apakah agama kita membolehkan hal itu terjadi? Bukankah adanya sebuah pemerintahan merupakan hal yang amat penting dalam kehidupan?” (al-Hukumah al-Islamiyyah, hlm. 74)

Lalu, siapakah yang dimaksud Khomeini layak menggantikan Imam yang dalam persembunyian menjalankan roda pemerintahan? Tidak lain adalah ulama Syiah. Khomeini mengatakan:

إن معظم فقهائنا في هذا العصر تتوفر فيهم الخصائص التي تؤهلهم للنيابة عن الإمام المعصوم

“Mayoritas ulama kita di zaman ini memiliki sifat-sifat yang membuat mereka layak mewakili imam yang maksum.” (al-Hukumah al-Islamiyyah, hlm. 113)

Konsekuensi dari mewakili jabatan dan kewenangan imam Maksum adalah perintah para ulama syiah sama dengan perintah Rasul. Maka, seluruh kaum Syiah yang ada di dunia pun harus tunduk di bawah pemerintahan sang wakil Imam. Lebih dari itu, Fakih juga menggantikan Imam dalam melaksanakan tugasnya. Di antara tugas Imam yang disebutkan dalam referensi mereka adalah pembantaian kaum selain Syiah.

 وأن القائم إذا خرج قتل ذراري قتلة الحسين بفعال آبائهم

“Kelak Imam Mahdi (yang disebut dengan Al Qa’im, artinya adalah yang bangkit) muncul, maka dia akan membantai anak keturunan para pembunuh Husein, karena dosa yang dilakukan oleh kakek mereka.” (Biharul Anwar, 52/313)

وإنه يقتل المولي، ويجهز على الجريح

“Imam Mahdi akan membantai para budak, dan membunuh musuh yang terluka.” (Biharul Anwar, 52/353)

Menyebarkan Konsep Wilayatul Faqih ke Seluruh Dunia

Khomeini tidak hanya ingin menyebarkan revolusinya secara damai, tetapi ingin memaksakan mazhabnya kepada kaum muslimin dengan kekuatan senjata. Dia telah mengisyaratkan hal itu sebelum berdirinya Iran. Khomeini memutuskan bahwa jalan untuk menyebarkan ajaran syiah ke seluruh dunia adalah dengan mendirikan negara Syiah yang akan melaksanakan tugas ini. Khomeini berkata :

ونحن لا نملك الوسيلة إلى توحيد الأمة الإسلامية، وتحرير أراضيها من يد المستعمرين وإسقاط الحكومات العميلة لهم، إلا أن نسعى إلى إقامة حكومتنا الإسلامية، وهذه بدورها سوف تكلل أعمالها بالنجاح يوم تتمكن من تحطيم رؤوس الخيانة وتدمر الأوثان والأصنام البشرية التي تنشر الظلم والفساد في الأرض

“Kita tidak memiliki jalan untuk mempersatukan umat Islam (di atas mazhab Rafidhah) dan membebaskan negeri Islam dari para penjajah, dan menjatuhkan pemerintahan boneka penjajah, kecuali dengan mendirikan pemerintahan Islam, dan negara ini akan mensukseskan programnya, pada saat mampu meremukkan kepala para pengkhianat, dan menghancurkan berhala berwujud manusia yang meneybarkan kezhaliman dan kerusakan di muka bumi.” (al-Hukumah al-Islamiyyah, hlm. 35)

Syiah akan terus berusaha meluaskan kekuasaannya ke seluruh dunia Islam dengan segala cara. Pemikiran mereka telah dituangkan dalam literatur-literatur yang diajarkan di setiap generasi dan kaderisasi. Didukung dengan kekuatan Negara Iran, mereka akan terus bergerak menyongsong datangnya sang Imam.

Dengan demikian, keberadaan Syiah di manapun akan menjadi bahaya bagi masyarakat dan Negara. Selain menyebarkan ideologinya yang sesat, mereka juga berhasrat untuk merebut kekuasaan politik Negara tersebut. Dan mereka tidak akan pernah puas selain terbalasnya dendam mereka atas pembunuhan imam Husain kepada kaum Sunni. Wallahu a’lam bish showab.
syiah, Cyber Tauhid
PARTAI KOMUNIS INDONESIA : Jakarta - Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berdialog dengan para jamaah Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan. Salah satu yang dipertanyakan oleh jamaah yang hadir adalah mengenai kebenaran ihwal isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Atas pertanyaan itu, Gatot pun mewanti-wanti soal bahaya laten PKI. Kata dia, hidupnya partai berlogo palu arit itu terindikasi dengan beberapa pernyataan maupun sikap yang muncul di masyarakat. "PKI tetap hidup seperti setan, tak terlihat," kata Gatot di hadapan para jamaah Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Sabtu, 3 Maret 2018.

Karena itu Gatot tergelitik dan akhirnya memutuskan mengadakan nonton bareng film soal G30S PKI beberapa waktu lalu.

Menurut Gatot, anak-anak yang tumbuh pasca-reformasi sudah tidak mendapatkan pelajaran soal pemberontakan G30S PKI. "Sarjana yang lulus tiga sampai empat tahun belakangan tidak tahu pelajaran itu," kata dia. Bahkan dia diceritakan bahwa anak dari salah satu stafnya yang masuk kuliah pun pernah menanyakan soal DN Aidit sang bos PKI.


"Makanya begitu di survei dia (anak muda) tidak percaya karena tidak tahu. Yang disurvei kebanyakan usia produktif, pemuda," kata dia.

Gatot meminta agar masyarakat tidak reaktif menanggapi isu-isu yang beredar. Dia menganjurkan agar umat Islam tidak tersulut dan malah terbawa skenario-skenario yang tidak diinginkan.

"Jadi kita harus waspada, kalau ada perkembangan kan ada Babinsa, RT, atau RW, silakan. Karena orang akan merebut Indonesia dengan cara tangan bersih tanpa biaya, menumpangi apapun," kata Gatot. Sebaliknya, kalau umat muslim bersih, tidak mudah emosi maupun gampang marah, dia yakin oknum-oknum tak bertanggung jawab juga tak bisa apa-apa.

Berbeda dengan pendapat Gatot Nurmantyo, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada 28 September 2017 menunjukkan 86,8 persen responden tidak percaya adanya isu kebangkitan PKI. Survei ini dilakukan menggunakan metode multistage random sampling, dengan jumlah 1057 responden. Survei tersebut juga menggunakan margin of error kurang-lebih 3,1 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.


Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas mengatakan isu kebangkitan PKI tersebut sebetulnya direproduksi oleh elite politik untuk tujuan politik tertentu. Sirojuddin menambahkan, hasil survei yang dilakukan lembaganya juga menemukan adanya keterkaitan antara isu PKI yang muncul dan upaya dukungan kepada tokoh atau elite politik tertentu.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj menilai wajar isu komunisme selalu muncul tahun. Menurut dia, kemunculan isu komunisme tak terlepas dari situasi politik menjelang pemilihan umum. "Setiap tahun, isu PKI (Partai Komunis Indonesia) pasti ramai. Misal, Presiden Jokowi dituduh PKI. Tapi tahun ini ramai karena menjelang tahun politik 2019. Ada hubungan, dong, pasti," kata Said, pada September 2017

PKI
syiah, Cyber Tauhid
CYBER TAUHID : Sejumlah ormas islam Kota Tasikmalaya  yang terdiri dari FPI, Al Mumtaz, Brigade Hizbullah, Ansyaru syariah, dan  Brigade Tholiban , dalam menyambut 10 Muharam 1440 tahun ini, Rabu ( 19/09 )  mengelar aksi damai berupa konvoi kendaraan ke sejumlah tempat tempat yang disinyalir sering dijadikan ajang ajang maksiat di Kota Tasikmalaya, sepanjang aksi sejumlah ulama muda Kota Tasikmalaya ini, menghimbau dan mengajak umat islam khususnya untuk sama sama membangun kota Tasikmalaya dengan nuansa yang lebih islami dan menjauhi hal hal yang dilarang oleh agama.

”Kita tak ingin Kota Tasikmalaya yang terkenal dengan kota santri dan relijius islaminya ini sering terkotori oleh mereka yang kerap menjadikan maksiat sebagai nafsu dalam kehidupannya, narkoba, asusila dan perderan miras  harus menjadi musuh besar kita untuk membangun kota kita tercinta ini ” ujar Ustad yanyan Albayani Ketua DPW FPI Kota Tasikmalaya.

Sementara itu usai mengelar konvoi ke sejumlah titik di Kota Tasik, umat islam juga mengelar auidens dengan  beberapa anggota DPRD Kota Tasikmalaya, dihadapan anggata dewan para tokoh aktivis pergerakan islam ini meminta pemerintah dan legislatif agar betul betul menjaga kondusifitas di Kota Tasikmalaya, penerapan Perda Tata Nilai yang digulirkan Pemkot Tasikmalaya agar terimplementasi dan terealisasi di masyarakat.


”Jangan hanya lips service belaka, faktanya kami justru menemukan sejumlah kegiatan maksiat mulai dari peredaran miras dan asusila yang disinyalir dibekingi oleh oknum aparat, nah ini mohon kepada pemerintah agar serius menanganinya, jika memang ada masalah silahkan anda bisa berkoordinasi dengan kamu pergerakan aktivis muslim yang ada di \kota Tasikmalaya ” ungkap Ketua Al Mumtaz Ustad Hilmi Afwan.

Tak hanya mengelar konvoi dan menuntut pemerintahagar serius menangani permasalahan maksiat di Kota Tasikmalaya, umat islam juga membentangkan spanduk kalimat tauhid sepanjang 300 meter, mereka menegaskan bahwa bendera Arroya dan Alliwa adalah mutlak bendera umat islam bukan bendera milik ormas HTI, bendera ini akan tetap berkibar di bumi Tasikmalaya sepanjang kalimat tauhid menancap dalam diri umat islam. Aparat kepolisian ikut membantu membentangkan spanduk Arroya.


”Jangan pernah mencoba untuk mengusik bendera umat islam ini di Tasikmalaya, jika tidak ingin berhadapa dengan umat islam di Tasikmalaya, ini adalah panji Rasulullah dan tidak ada seorangpun yang berhak menyebutnya sebagai bendera ormas HTI, ini adalah panji kami ” terang Ustad Ahmad al Hafidz`
syiah, Cyber Tauhid
Senator DKI Jakarta Fahira Idris merasa mendapatkan sinyal kuat begitu besarnya keinginan rakyat akan adanya pergantian kepemimpinan nasional secara konstitusional pada Pemilu 2019 mendatang. Ia menilai pesan kuat ini harus bisa dijaga oleh Pasangan Calon Prabowo-Sandi dengan memformulasikan program dan janji kerja yang langsung menyentuh jantung persoalan yang selama ini diresahkan rakyat Indonesia.

“Setiap saya turun ke bawah menyapa konstituen dan bertemu berbagai elemen rakyat di berbagai wilayah Indonesia, saya selalu mendapat pesan kuat bahwa rakyat ingin ada pergantian tampuk kepemimpinan nasional. Gerakan 2019 Ganti Presiden harus ‘dibalas’ Prabowo-Sandi dengan berani mengoreksi dan merubah total kebijakan dan program Pemerintahan Jokowi selama empat tahun belakangan ini,” ujar Fahira Idris, di Jakarta (13/08/2018).

Ketua Komite III DPD RI mengungkapkan, jika ingin memenangkan hati sebagian besar rakyat Indonesia, Prabowo-Sandi harus berani menjadi antitesa berbagai kebijakan Jokowi selama memimpin negeri ini terutama dalam pengelolaan ekonomi bangsa yang semakin tidak menentu karena melahirkan berbagai ketimpangan atau kesenjangan.

“Kebijakan menjadikan pembangunan benda mati (infrastruktur) sebagai segala-galanya harus dikoreksi total oleh Prabowo-Sandi dengan menjadikan pembangunan manusia sebagai panglima. Kesalahan fatal ini jangan diulang lagi oleh Prabowo-Sandi jika nanti dipercaya memimpin negeri ini,” papar Fahira Idris.

Tak hanya itu, menurut Fahira, berbagai kebijakan mulai dari utang negara, pengelolaan kekayaan negara, soal tenaga kerja asing dan susahnya lapangan pekerjaan, mudahnya impor bahan pangan, kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali, tarif listrik, termasuk perjanjian investasi dengan Tiongkok juga harus dikoreksi total. Pengelolaan konflik sosial yang selama empat tahun terakhir ini dianggap gagal juga harus dicari formulasi solusinya.

“Prabowo-Sandi harus berani mengoreksi total berbagai kebijakan yang selama ini menyulitkan rakyat dan menjadi biang kegaduhan di negeri ini. Tawarkan program nyata yang menyentuh persoalan serta janji kerja yang rasional serta solutif. Selama empat tahun ini rakyat sudah cukup lelah melihat banyak janji-janji yang tidak ditepati,” pungkas Ketua Komite III DPD RI ini.

“UUD 1945 dan sila kelima Pancasila tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tandasnya.[IZ]
syiah, Cyber Tauhid
Bak kelinci percobaan, umat Islam di Indonesia tampaknya tak pernah selesai diuji dengan wacana-wacana baru. Meskipun ide dasarnya merupakan pengulangan dari wacana yang telah usang, namun ide ini terus dikampanyekan secara massif. Kini, ide itu bernama Islam Nusantara.

Hanya saja kali ini, wacana Islam Nusantara dipikulkan kepada ormas Islam yang memiliki pengaruh cukup luas di tengah masyarakat Indonesia. Tak ketinggalan para pejabat terkait urusan agama hingga Presiden turut meramaikannya.

Kiblat.net berupaya mengumpulkan pendapat para tokoh terkait ide Islam Nusantara. Salah satunya adalah aktivis muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya. Berikut petikan wawancara Kiblat.net pada Rabu, (17/06) di bilangan Jakarta.

Akhir-akhir ini kita melihat media-media dan di beberapa kampus mulai sering digelorakan kampanye Islam Nusantara apakah memang ada agenda terselubung atau memang sekadar kebetulan saja?

Jadi ini adalah bagian dari upaya untuk membangun opini terkait dengan upaya-upaya seluruh dunia untuk menjauhi Islam, yang seolah-olah Islam itu digambarkan seperti yang terjadi di Timur tengah. Yaitu dengan membentuk seolah-olah ini (Islam Nusantara, red) adalah sebuah solusi Islam yang tepat, tidak seperti yang ada di Timur tengah.

Kalau di Indonesia namanya sekarang diusulkan Islam Nusantara. seolah-olah ide ini solusi yang terbaik bagi Islam seluruh dunia. Disuruh menyontoh, ini lho Islam nusantara. Dugaan saya mereka inginnya seperti itu. Jadi kalau mau mencontoh Islam yang baik, itu adalah Islam nusantara yang ada di Indonesia, itu secara umum.

Tapi secara khusus, ini kan ada huruf ‘nu’. Itu di pas-paskan. Kan bisa saja Islam Indonesia juga bisa. Kenapa tidak Islam Indonesia? Kenapa Islam Nusantara, karena di situ inisiatornya adalah berasal dari organisasi yang ada huruf ‘nu’, maka dinamakanlah Islam Nusantara.

Lazimnya, kalau tidak mau dikait-kaitkan dengan nama organisasi tentu lebih tepat adalah Islam Indonesia. kan begitu, jadi bukan Islam Nusantara lagi.

Kalau boleh berkelakar, apa usulan Anda?

Kalau saya boleh usul, misalkan saya dimintai pertimbangan lebih bagus nama apa, saya usulkan Islam Indonesia. Itu pun kalau saya setuju. Persoalannya kan saya tidak setuju. Saya tidak setuju pembentukan Islam Nusantara karena prinsip Islam itu adalah Islamlah yang mewarnai Indonesia atau mewarnai nusantara, bukan kebalikannya nusantara yang mewarnai Islam.

Apa perbedaannya?

Berbeda dong. ini seperti spare part mobil. kita kalu butuh spare part Honda ya kita ke Jepang. Kita butuh spare part VW kita ke Jerman. Kita butuh spare part GMC kita ke Amerika, dan seterusnya. Itu adalah model-modelnya. Jadi kita itu memiliki acuan-acuan, sumber-sumber. Yang namanya agama Islam itu lahir di Arab untuk seluruh dunia, rahmatan lil ‘alamin.

Kalau begitu, Islam Nusantara itu tidak bisa rahmatan lil alamin karena orang harus meniru cara Indonesia, seperti orang Indonesia. Mestinya Islam di Indonesia pun cocok untuk Islam yang lain, namanya universal kan.

Dengan demikian ini kan terkesan mengkotak-kotakkan, bahwa Islam itu tidak sama di seluruh dunia. Padahal nilai-nilai Islam dengan perilaku itu berbeda. Misalkan perilaku orang Islam di suatu negara.

Ini perilaku ya, berbeda dengan nilai. Nilai itu harusnya sama. Kita tidak boleh kemudian membohongi diri sendiri, seolah-olah kita itu menyesal telah memiliki agama bernama Islam, kemudian tidak cocok dengan kultur orang Indonesia. Kita tidak boleh seperti itu.

Faktanya adalah Islam terlahir di sana, tetapi untuk seluruh alam, rahmatan lil alamin, untuk semua manusia generasi mana pun. Islam adalah agama terakhir dan sudah ditulis dalam nash sebagai yang paling sempurna, tidak ada yang lebih sempurna dari itu. Itu yang pertama.

Yang kedua, tentu ide ini sangat janggal karena saya lihat pengusung ide Islam Nusantara itu justru dari orang yang memiliki kelompok yang memelihara “tradisi Arab”. yang suka bershalawatan rame-rame.

Itu bukan tradisi Islam Indonesia?

Bukan tradisi kita lah. Yang suka berzikir ramai-ramai, istighosah.. Lho ini mereka meniru gaya-gaya mana coba? Bahasanya, hurufnya, ini kan dari Al-Quran yang lahir di Arab. Kenapa zikirnya istighosahnya atau salawatannya tidak pakai bahasa Jawa? Ini kan berasal dari kelompok yang justru memelihara tradisi atau kebiasaan Arab, kemudian malah mengusulkan Islam yang hanya cocok untuk Indonesia. Tentu ini berbenturan.

Menurut saya ini tidak cocok dan janggal, jangan-jangan usulan ini adalah hanya untuk menggalang opini akan adanya even-even besar yang mereka miliki.

Ada indikasi ke arah situ?

Namanya penggalangan opini. Manajemen isu itu adalah sesuatu yang lazim dalam even-even tertentu yang dimiliki oleh organisasi. misalkan organisasi A mau mengadakan Munas, maka supaya masyarakat ikut terlibat secara emosional dengan Munas itu dibikinlah teaser-teaser, tahapan-tahapan opini, isu-isu supaya masyarakat ikut terlibat di dalam keinginan, visi misi tertentu. Nah tentu ini adalah sebagai bagian opini manajemen isu.

Jadi karena ini bertolak belakang dengan kultur lingkungan mereka, golongan mereka yang sesungguhnya memelihara tradisi-tradisi Arabic, ini tentu tidak pas, tidak klop. Mestinya yang mengusung Islam Nusantara itu adalah kelompok yang minim sekali mereka memelihara tradisi-tradisi kearaban.

Ada yang mengatakan konsep Islam Nusantara ini untuk melawan Arabisasi yang seolah-olah digembar-gemborkan sebagai ideologi transnasional?

Untuk level besarnya begini, nanti ide Islam Nusantara ini akan berbahaya misalkan nanti ada Islam Nusantara, ada Islam Malaysia, ada Islam Brunei, itu yang besar, makronya.

Yang lebih rumit lagi, ada Islam Medan, Islam Surabaya, Islam Jogja, Islam Kediri, Islam Madura. Lebih kecil lagi ada Islam Kecamatan A, kecamatan B. Lho ini kan ngeri paham yang seperti ini. Padahal Islam itu ya satu. Ini adalah prinsip. Islam itu satu.

Nah yang memungkinkan adalah mengIslamkan orang Jawa, mengIslamkan orang Medan, mengIslamkan orang Malaysia. Bukan sebaliknya memadurakan Islam, menjawakan Islam, memedankan Islam. Islam itu tidak bisa diubah. Islam itu sudah sangat sempurna, tidak mungkin dia diubah, dimodifikasi tidak mungkin.

Tapi soal perilaku beda lagi. Nilai-nilai Islam itu sama persis, tidak bisa diubah dan itu cocok dengan semua orang jika semua orang mengerti. Tapi persoalannya kan tidak semua orang paham. Nah, sekarang rahmatan lil alamin kadang-kadang disesatkan artinya.

Beberapa lembaga, misalkan saya lihat sekarang, BNPT misalkan atau pejabat-pejabat itu mengartikan rahmatan lilalaamin dalam perspektif yang sempit. Seolah-olah rahmatan lil alamin karena cocok untuk semua negara, kemudian setiap negara itu boleh memodifikasi Islam itu sendiri. Karena cocok kemudian boleh memodifikasi sendiri.

Ini seolah-olah Islam Indonesia itu ya seperti ini. Kalau pengajian pakai jilbab, kalau tidak pengajian perempuannya tidak usah pakai jilbab. Kemudian berbuat baik itu selama Ramadhan saja, kemudian situasi nuansa keIslaman itu kalau bulan-bulan yang suci saja atau hari-hari yang berkaitan dengan perayaan Islam saja, selain itu tidak perlu. Kita kembali ke budaya masing-masing.

Padahal, Islam datang itu kan untuk memperbaiki budaya seluruh dunia, bukan sebaliknya. jadi ketika Arab rusak, begitu ada Islam jadi baik. Indonesia mestinya sama, Indonesia rusak ada Islam jadi baik. Jangan dipelintir-pelintir dong, seolah-olah Islam tidak cocok. Indonesia jadi rusak karena Islam. Tidak begitu, ini manusianya.

Banyak sekali kadang dia beragama tapi tidak paham kitab sucinya, sehingga nilai yang diangkat adalah bukan nilai agama itu tapi nilai budaya yang dicampur dengan agamanya, lalu disebut abangan. Itu yang terjadi


Bak kelinci percobaan, umat Islam di Indonesia tampaknya tak pernah selesai diuji dengan wacana-wacana baru. Meskipun ide dasarnya merupakan pengulangan dari wacana yang telah usang, namun ide ini terus dikampanyekan secara massif. Kini, ide itu bernama Islam Nusantara.

Hanya saja kali ini, wacana Islam Nusantara dipikulkan kepada ormas Islam yang memiliki pengaruh cukup luas di tengah masyarakat Indonesia. Tak ketinggalan para pejabat terkait urusan agama hingga Presiden turut meramaikannya.

Kiblat.net berupaya mengumpulkan pendapat para tokoh terkait ide Islam Nusantara. Salah satunya adalah aktivis muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya. Berikut petikan wawancara Kiblat.net pada Rabu, (17/06) di bilangan Jakarta. Simak wawancara sebelumnya..

Ada beberapa kelompok yang sepertinya menjadi penumpang gelap dalam isu ini karena ada arahan Islam Nusantara ini ya Islam yang bukan Arab. Apa tanggapan Anda?

Ya memang Islam itu bukan Arab, maksudnya Islam itu bukan orang Arab. Makanya saya bilang Islam itu satu, ya Islam. orang Arab itu perilaku, berbeda. Tapi lahirnya Islam itu ada di Arab. Jadi Islam itu bukan Islam Arab, bukan Islam Indonesia. Orang Arab yang non-muslim juga banyak. Jadi kalau ada yang bilang Islam Arab salah besar, Islam itu ya Islam.

Tapi perkara orang Arab berperilaku tidak Islam, karena ini perilaku, dan nilai-nilai Islam itu untuk seluruh dunia, tidak mungkin kemudian kita bilang IslamArab-Islam nonArab, tidak ada. Islam itu ya Islam.

Nah kemudian, kenapa orang liberal dan lain sebagainya ini seolah-olah menumpang, itu karena mereka ingin mencari solusi agar kepentingan semua agama itu tidak berbenturan. Maka dibuatkan sebuah tag line seolah-olah semua agama itu sama, jadi semua agama itu benar. Itu kan yang mau mereka bangun sehingga orang tidak berkelahi karena adanya agama-agama.

Yang tidak mereka ketahui adalah agama itu hanya satu dan itu yang terakhir dan pasti paling sempurna. Bagaikan pabrik mobil, pabrik yang paling baik itu pasti produksi terakhir yang paling baik karena dia paling sempurna belajar dari kesalahan produksi sebelumnya. Ini sama dengan agama juga, Islam adalah terakhir, nabinya terakhir dan tidak ada yang berdiri setelah itu, tidak ada nabi setelahnya. Laa nabiyya ba’dah. Jadi setelah itu tidak ada lagi. Tidak ada agama baru, agama Islam terakhir nabinya terakhir, semua harus taat pada agama ini.

Karena tidak taat, tidak mengerti tentang agama ini maka dia mencoba untuk membangun kembali seolah-olah agama yang lampau, agama yang sudah diubah-ubah olah manusia itu seolah-olah agama yang masih benar. Padahal agama istilah ahli kitab dan sebagainya sudah tidak ada lagi. Agama nasrani, kristen katolik, konghucu ini adalah agama bikinan manusia, berdasarkan pernah ada kitab suci yang dia pegang tapi dia ubah-ubah sesuai zaman.

Maka tidak ada kitab suci yang lebih sempurna dari Al-Quran, yang bisa menjawab semua tantangan kecuali Al-Quran. Kalau anda mempelajari Al-Quran, tidak akan anda temui kedetailan Al-Quran itu dibanding kitab suci yang lain. Karena memang Al-Quran jadi kitab yang terakhir.

Kaum liberal ini mungkin saja diuntungkan dengan ide ini, tapi dalam prisip Islam ini tentu tidak benar. Karena mereka, saya yakin tidak memahami Al-Quran apa yang dimaksud dengan firman Allah SWT bahwa Islam sempurna, dan tidak ada yang lebih dari Islam dan tidak ada agama setelahnya, tidak ada nabi setelah muhammad, tidak da lagi yang lebih sempurna dari muhammad akhirnya kita harus percaya dan yakin bahwa satu-satunya agama yang benar adalah Islam.

Dahulu pernah ada istilah serupa dengan Islam Nusantara, yaitu Aktualisasi Al-Quran, bagaimana prediksi anda bisakah ide Islam Nusantara ini diterima oleh masyarakat?

Jadi ide itu boleh banyak, orang boleh membuat ide-ide baru. Tapi saya yakin tidak akan bertahan lama. Setiap zaman itu pasti ada orang yang memiliki ide-ide miring. Ide yang tidak sama. Seolah-olah unik, mereka pasti akan merasa seolah-olah ini ide baru. Tapi tidak akan pernah awet dan tidak akan pernah diterima masyarakat karena akhirnya masyarakat akan belajar dari kesalahan.

Misalkan kelompoknya Ulil mau berusaha kenapa kelompoknya itu-itu saja. Tidak berubah dan orangnya itu-itu saja. Masyarakat biasanya akan menolak setelah sadar.

Dan generasi antar generasi itu semuanya tidak mungkin akan mengikuti jalan yang sama. Misalnya begini, sekarang mungkin orang dalam satu keluarga anaknya tergoda dengan ide liberalisme, tapi nanti saat keluarga itu semuanya tentu tidak akan mengikuti dia. Dia akan belajar dari kesalahan-kesalahan saudaranya, akan seperti itu.

Begitu juga dengan kelompok-kelompok, mungkin ada kelompok yang mendukung liberalisme agama dan ormas tertentu yang seolah-olah mendukung ide-ide liberalisme agama. Tapi suatu saat generasi berikutnya dia akan memperbaiki. Secara organisasi ya, saya yakin (ide Islam Nusantara, red) ini pendapat pribadi, yang karena pribadi itu memiliki jabatan penting di situ, seolah-olah pendapat organisasi. Saya pikir tidak.

Menurut Anda ini pendapat pribadi yang dianggap sebagai pandangan organisasi?

Jadi bedakan antara pendapat pribadi dalam organisasi sebesar itu, dengan pendapat organisasi. Pendapat organisasi itu ditentukan oleh pleno, diputuskan dalam muktamar misalnya.

Ini hanya pendapat pribadi, kalau dalam organisasi misalnya Muhammadiyah, jarang sekali ada pendapat-pendapat yang kemudian rancu. Ini kan rancu sekali antara pendapat pribadi seorang ketua umum dengan lembaga yang dipimpinnya. Kalau sampai pendapat organisasi, korporasi, organisasi tertentu, tentu ini fatal. Karena masa sih pengurus yang segitu banyak mengelola organisasi Islam sebesar itu terjadi kesalahan kolektif. Tidak mungkin.

Saya pikir ini pendapat pribadi seseorang yang secara sadar memanfaatkan saja. Bukan menunggangi ya, tapi tadi dalam rangka penggalangan opini untuk tujuan-tujuan tertentu jangka pendek.  Anda tahulah untuk kepentingan apa. Mereka memiliki kegiatan terbesar apa dalam tahun ini, kita akan tahu lah. Jadi penggalangan opini untuk teasure pemanasan, nanti hilang juga itu. Tidak mungkin akan berlangsung lama, tidak akan permanen.

Artinya kita tidak perlu terlalu reaktif menanggapi wacana ini?

Tidak perlu, anggap saja itu angin lalu. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tidak perlu dianggap serius-serius karena biasanya dari kelompok-kelompok itu pula yang sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang nyeleneh. Jadi ini dedengkotnya sudah tidak ada, sudah meninggal, tapi muridnya masih banyak.

Saya tidak perlu menyebut namanya. Ada yang jadi menteri ngomongnya juga ikut nyeleneh, ada yang jadi pengurus organisasi tertentu ngomongnya nyeleneh. Inilah murid-murid bekas dedengkot-dedengkot yang sudah meninggal pada waktu sebelumnya, tapi muridnya ini belum bisa move on. Jadi mereka masih ikut sesat-sesat sedikit, tapi suatu saat generasi berikutnya akan memperbaiki, itu yang akan terjadi.

Sejak dulu ada tokoh yang nyeleneh kemudian mati, muncul generasi berikutnya memperbaiki. Akan begitu terus. Dan inilah ibrohnya, kita bisa mengambil pelajaran. Kalau tidak ada begitu kita tidak akan mengerti.

Jadi Islam Nusantara ini muncul supaya kita tahu seperti apa Islam yang benar.
syiah, Cyber Tauhid
UNTUK GURUKU UST ADI (MUHAMMADIYAH) DAN UST SOMAD (NU)
Oleh : Hilmi Firdausi
Afwan Ustadz, perkenalkan saya murid antum berdua di dunia maya, seringkali menyimak kajian keilmuan yang luar biasa, ditengah kegalauan banyak pemula yang sedang semangat mengenal agamanya.
Sungguh fenomena kembali kepada Islam, kembali kepada Qur'an dan sunnah begitu marak terutama di perkotaan. Majlis-majlis ilmun tumbuh subur, bahkan hingga ke gedung-gedung perkantoran. Para profesional berdasi kadang mengorbankan waktu break nya untuk mengikuti kajian dzuhur atau bahkan rela pulang lebih larut untuk mengikuti kajian ba'da Isya di Masjid yang tak jauh dari gedung kantornya. Ini kabar menggembirakan tentunya...
Kalau dulu Kafe dan Fitnes center adalah persinggahan utama menunggu kemacetan, kini kajian-kajian keilmuan islam menjadi alternatif pilihan. Kalau dulu weekend adalah adalah waktunya ngeMall bersama Keluarga, atau menginap barang semalam di Bandung atau Puncak, hari ini weekend adalaha waktunya menghadiri kajian rutin yang diisi ustadz-ustadz ternama.
Ustadz Adi, Ustadz Somad...jazakumullah khoiron katsiiro. Hanya itu yang dapat kami sampaikan kepada antum berdua...Antum hadir pada saat Ummat membutuhkan referensi yang lengkap tentang keislaman yang sedang dipelajarinya, jika saja antum telat hadir...bisa jadi akan terjadi friksi lebih tajam antara golongan Islam tradisional dengan saudara-saudara kita yang sedang belajar sunnah.
Dengan kecerdasan dan kelembutan Ust Adi membahas suatu masalah (terutama fiqih) dari 4 mazhab berbeda, dengan kelugasan penyampaian Ust Somad tentang suatu masalah keislaman, ditambah gayanya yang segar, humble dan jauh dari mentahdzir ulama lain...membuat kami-kami para pembelajar tercerahkan luar biasa, bahwa ternyata masih banyak Ilmu yang kami belum tau---dan terutama, kami yg tadinya bersu'udzhon kepada para tetua kami, menganggapnya ahlul bid'ah, agama warisan dsb menjadi beristighfar---bahwa apa yang tetua kami lakukan dulu jugalah memiliki dalil dan hujjah.
Flash back kebelakang, tak mungkinlah jika ulama sekaliber KH.Hasyim As'ari tak mengerti arti bid'ah. Juga tak mungkin ulama sehebat KH.Ahmad Dahlan tidak faham akan sunnah. Merekalah ulama-ulama besar yang faqih namun amat sangat bijaksana dalam menyebarkan Islam di tanah air tercinta. Buktinya---Ummat Islam di Indonesia adalah yang terbesar di dunia dengan tingkat konflik yang sangat minim. Tak bisa kita menafikan jasa-jasa ulama terdahulu terhadap perkembangan dakwah Islam di tanah air, termasuk Wali Songo.
Hari ini, Ust Adi Hidayat dan Ust Abdul Somad, saya melihatnya sebagai representasi terhadap Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama, dua Ormas Islam terbesar yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Republik ini. Sehat-sehat terus ya tadz...Kami selalu menunggu dakwah antum berdua, yang cerdas, segar, menyejukkan dan merekatkan ummat.
syiah, Cyber Tauhid
Segala keterbatasan tak menghentikan warga Palestina berinovasi untuk menghadapi penjajah Zionis Israel. Baru-baru ini, warga Gaza menemukan strategi baru; mengirim api ke wilayah Israel. Meski sangat kecil strategi ini bisa membunuh tentara Israel, namun mampu memberi pukulan ekonomi terhadap negara penajajah tersebut.

Seperti dilansir dari Reuters Arabic pada Senin (05/06), pejuang Palestina menggunakan senjata “layang-layang api” untuk menargetkan wilayah Israel. Senjata sederhana ini mampu membakar perkebunan, hutan dan pertanian penjajah Zionis.

Sa’id Syadi, satu dari lima pemuda Palestina pembuat layang-layang api, mengatakan bahwa munculnya strategi itu muncul secara spontan. Ia tidak pernah berpikir bahwa senjata itu mampu memberikan pukulan yang mengkhawatirkan Isrel.

Pemuda 19 tahun ini menjelaskan bahwa gagasan awal strategi ini sederhana; menggunakan alat paling sederhana untuk menyebabkan kerusakan dan menimbulkan korban pada pendudukan Israel.

Strategi itu dilakukan pejuang dengan menerbangkan layang-layang dari dalam wilayah Palestina yang berdekatan dengan tembok perbatasaan Israel. Layang-layang tersebut dipasang kain yang terbakar. Setelah terbang melintasi tembok, pejuang memutus tali layang-layang.

Syadi menjelaskan, bahan layang-layang diambil dari plastik putih transparan. Hal itu untuk menghindari pantauan dan deteksi pasukan Israel.

Dia menegaskan, akan terus mengirim layang-layang api ke wilayah Israel jika demonstrasi di perbatasan telah usai. Seluruh biaya pembuatan layang-layang diambil dari kocek pribadi.


Pemerintah Israel mengatakan bahwa tidak ada korban akibat serangan layang-layang api itu. Akan tetapi, serangan itu menyebabkan sekitar 2.250 hektar lahan yang sudah gersang dan cagar alam setelah musim dingin yang kering terbekar. Kerugian sementara diprediksi sebesar $ 2,5 juta.

Menteri Keamanan Publik Gilad Erdan mengatakan akan mengerahkan penembak jitu untuk menembak orang-orang yang mengirimkan layang-layang api.

“Saya berharap tentara Israel untuk berurusan dengan orang-orang ini, seperti berurusan dengan teroris, dan tentara juga harus menerapkan kebijakan pembunuhan yang ditargetkan terhadap mereka yang mengirim layang-layang api,” kata Erdan.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi
syiah, Cyber Tauhid
Ribuan warga Solo Raya mendeklarasikan #2019GantiPresiden di kawasan lapangan Kota Barat, Jl. Dr. Moewadi, Solo, Ahad (1/7/2018). Deklarasi itu berlangsung tepat setelah mereka melakukan jalan sehat di kota Solo.

Dimotori oleh Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), deklarasi itu dihadiri oleh Ketua DSKS ustadz Muinnuddinillah Basri, Ketua LUIS Ustadz Edy Lukito, Neno Warisman, dan pencipta lagu #2019GantiPresiden, Joni Sang Alang.

Deklarasi dibacakan oleh Neno Warisman. Dalam orasinya, ia menyampaikan sikap keprihatinan atas kondisi rakyat Indonesia, yang masih dikelilingi oleh permasalahan sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan sebagainnya.

“Kami relawan nasional #2019GantiPresiden, dengan ini menyatakan sikap keprihatinan atas kemiskinan, ketidakadailan, ketidakperpihakan, dan ancaman terhadap kedaulatan serta krisis kepemimpinan yang terjadi saat ini di bumi NKRI”, Ucap Neno Warisman, sembari diikuti oleh ribuan warga Solo Raya.

Oleh karena itu, Neno berpesan kepada para peserta untuk ikut bejuang bersama rakyat, demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik, berdaulat, bermartabat, adil, makmur dan berahlak mulia. Dengan mengawal jalannya Pemilu Presiden 7 April 2019 mendatang, supaya mewujudkan pergantian kepemimpinan Indonesia.

Usai membacakan deklarasi, Kain bertuliskan #2019GantiPresiden diterbangkan keudara dengan menggunakan beberapa balon. Dengan diiringi lagu #2019GantiPresiden, para peserta terlihat mulai meninggal kan lokasi tepat pukul 10.00 WIB.





Reporter: Usamah Rabbani
Editor: Fajar Shadiq
syiah, Cyber Tauhid
Momentum Idul Fitri kali ini memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang, termasuk diantaranya  orang-orang yang termasuk kategori   “dibalik layar”. Alhamdulillah dalam liburan Idul Fitri ini saya juga mendapatkan kesempatan  untuk sedikit membuka lembaran sejarah kejayaan peradaban Islam di masa lampau.

Pernah mendengar ungkapan “Kuasailah Informasi maka engkau akan kuasai dunia?”, ungkapan ini bukan hanya dipromosikan oleh futurolog seperti John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam buku mereka ‘Megatrend 2000’ yang begitu terkenal di era 90an, namun juga sudah dipraktekkan oleh Bani Umaiyyah dalam mentahlukkan Andalusia di benua Eropa. Dengan keunggulan di bidang penguasaan  strategi, teknologi dan informasi, dinasti Bani Umayyah mampu menguasai seluruh wilayah yang ada di Jazirah Arabia, Afrika Utara, Asia Tengah dan Asia Selatan hingga Eropa.

Tercatat dalam  sejarah, atas permintaan dari warga Andalusia yang ditindas oleh raja Roderick, Kahlifah Al Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah  bermaksud untuk mengirimkan  ekspedisi untuk membebaskan Andalusia.  Sebelum bergerak menaklukkan Andalusia, Khalifah Al Walid bin Abdul Malik memberikan instruksi untuk mengirim pasukan intelijen tempur atau talailah untuk melakukan pengintaian terhadap musuh  dan pengkondisian wilayah  sasaran.

Dengan dukungan De Graff Julian, seorang pemimpin lokal yang tidak puas dengan gaya kepemimpinan  Raja Roderick yang lalim, Tharif bin Malik  bersama sekitar empat ratus orang pasukan berhasil menyelinap ke wilayah Andalusia untuk mencari berbagai informasi mengenai kekuatan yang dimiliki musuh sekaligus melakukan operasi clandestine untuk mempersiapkan kedatangan pasukan utama  dengan kekuatan yang lebih besar.

Keberadaan pasukan talailah ternyata cukup efektif, setelah semua informasi yang dibutuhkan tersedia dan daerah sasaran terkondisikan, barulah dikirim pasukan utama di bawah komandan Thariq bin Ziyad, yang melakukan pendaratan melalui sebuah selat yang kemudian dikenal dengan sebutan Jabal Thariq atau Giblaltar.

Perkembangan intelijen modern  saat ini telah berkembang jauh lebih pesat dibandingkan masa lampau. Tidak hanya sekedar  analisa dan pengolahan data untuk pengambilan  keputusan bisnis, dengan operasi intelijen bisnis yang dikelola dengan baik, suatu entitas bisnis atau bahkan negara agresor bisa menguasai sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh negara lainnya tanpa harus menguasai secaa fisik negara sasaran.

Dalam dunia intelijen dikenal istilah cover atau penyamaran. Tujuan penggunaan cover dalam operasi intelijen secara prinsip adalah agar aktivitas intelijen tersebut tidak diketahui musuh dan  keberadaan tim intelijen bisa diterima oleh target operasi. Dalam kisah penaklukkan Andalusia, sebagai cover (kedok) dari operasi intelijen yang dilakukan  Tharif bin Malik bersama pasukannya  adalah De Graff Julian sebagai kolaborator dan penyedia dukungan  logistik. Lalu bagaimana dengan era globalisasi  seperti sekarang ini?

Kemajuan  ilmu pengetahuan dan teknologi informasi  seperti sistem big data, komputasi cloud dan sebagainya mendorong aktivitas intelijen bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja.  Keberadaan perusahaan penyedia teknologi juga merupakan cover intelijen yang bagus dalam pengunpulan informasi dan analisa data.

Berbagai  laporan menyebutkan, Amerika Serikat merupakan pelopor spionase global dengan memanfaatkan Google sebagai salah satu penyuplai teknologi dan data untuk kepentingan intelijen mereka. Coba Anda bayangkan,  saat ini hampir semua data pribadi dan aktivitas masyarakat modern  bisa di akses oleh Google melalui HP android yang masing-masing kita miliki. Termasuk kapan kita bangun, pergi kemana kita hari ini, atau bahkan menu makanan favorit kita apa saja.

Tidak hanya perusahaan raksasa yang bisa digunakan sebagai cover intelijen, bahkan perusahaan startup lokal yang baru seumur jagung  sangat mungkin menjadi selubung operasi intelijen dari negara asing guna menguasai potensi pasar Indonesia yang sangat besar dengan populasi penduduk ke empat terbesar di dunia.

Saat ini banyak perusahaan venture asing  yang berburu start-up bisnis dari  Indonesia, untuk dibiayai dan dibesarkan. Sebagai contoh adalah berita heboh perusahaan jasa transportasi online lokal yang disuntik investasi 16 Miliar dolar dari negeri komunis Tirai Bambu.  Tidak berselang lama kemudian,  perusahaan transportasi online ini bertransformasi menjadi salah satu raksasa penyedia platform e-money di Indonesia.  Disatu sisi hal ini  tentu sangat membanggakan namun, namun disisi lain juga mengkhawatirkan, karena  sangat mungkin  itulah pintu masuk  kepentingan asing dalam memata-matai dan menguasai sektor ekonomi Indonesia.

Lalu bagaimana dengan kita? Tentu kita harus waspada namun juga tidak boleh larut dalam ‘penyakit paranoid’ terhadap investasi asing. Bagi para pebisnis pemula, sepertinya sudah saatnya untuk  mencari juga investor yang ‘seide dan sefaham’ dengan pemikiran dan prinsip hidup dan keyakinan kita. Dan bagi yang diberikan kelebihan rizki, sudah saatnya  untuk berinvestasi  ke start-up milik anak bangsa yang memiliki potensi untuk dikembangkan  bukan lagi ‘memarkirkan dana’  ke Bank konvensional.

Penulis: Safari Hasan, S.IP, MMRS (Direktur Qualita Insani Foundation)

VIDEO

KRISTENISASI

SYIAH

LIBERAL