TRENDING NOW

SYIRIK

KOMUNIS

syiah, Cyber Tauhid
Senator DKI Jakarta Fahira Idris merasa mendapatkan sinyal kuat begitu besarnya keinginan rakyat akan adanya pergantian kepemimpinan nasional secara konstitusional pada Pemilu 2019 mendatang. Ia menilai pesan kuat ini harus bisa dijaga oleh Pasangan Calon Prabowo-Sandi dengan memformulasikan program dan janji kerja yang langsung menyentuh jantung persoalan yang selama ini diresahkan rakyat Indonesia.

“Setiap saya turun ke bawah menyapa konstituen dan bertemu berbagai elemen rakyat di berbagai wilayah Indonesia, saya selalu mendapat pesan kuat bahwa rakyat ingin ada pergantian tampuk kepemimpinan nasional. Gerakan 2019 Ganti Presiden harus ‘dibalas’ Prabowo-Sandi dengan berani mengoreksi dan merubah total kebijakan dan program Pemerintahan Jokowi selama empat tahun belakangan ini,” ujar Fahira Idris, di Jakarta (13/08/2018).

Ketua Komite III DPD RI mengungkapkan, jika ingin memenangkan hati sebagian besar rakyat Indonesia, Prabowo-Sandi harus berani menjadi antitesa berbagai kebijakan Jokowi selama memimpin negeri ini terutama dalam pengelolaan ekonomi bangsa yang semakin tidak menentu karena melahirkan berbagai ketimpangan atau kesenjangan.

“Kebijakan menjadikan pembangunan benda mati (infrastruktur) sebagai segala-galanya harus dikoreksi total oleh Prabowo-Sandi dengan menjadikan pembangunan manusia sebagai panglima. Kesalahan fatal ini jangan diulang lagi oleh Prabowo-Sandi jika nanti dipercaya memimpin negeri ini,” papar Fahira Idris.

Tak hanya itu, menurut Fahira, berbagai kebijakan mulai dari utang negara, pengelolaan kekayaan negara, soal tenaga kerja asing dan susahnya lapangan pekerjaan, mudahnya impor bahan pangan, kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali, tarif listrik, termasuk perjanjian investasi dengan Tiongkok juga harus dikoreksi total. Pengelolaan konflik sosial yang selama empat tahun terakhir ini dianggap gagal juga harus dicari formulasi solusinya.

“Prabowo-Sandi harus berani mengoreksi total berbagai kebijakan yang selama ini menyulitkan rakyat dan menjadi biang kegaduhan di negeri ini. Tawarkan program nyata yang menyentuh persoalan serta janji kerja yang rasional serta solutif. Selama empat tahun ini rakyat sudah cukup lelah melihat banyak janji-janji yang tidak ditepati,” pungkas Ketua Komite III DPD RI ini.

“UUD 1945 dan sila kelima Pancasila tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tandasnya.[IZ]
syiah, Cyber Tauhid
Bak kelinci percobaan, umat Islam di Indonesia tampaknya tak pernah selesai diuji dengan wacana-wacana baru. Meskipun ide dasarnya merupakan pengulangan dari wacana yang telah usang, namun ide ini terus dikampanyekan secara massif. Kini, ide itu bernama Islam Nusantara.

Hanya saja kali ini, wacana Islam Nusantara dipikulkan kepada ormas Islam yang memiliki pengaruh cukup luas di tengah masyarakat Indonesia. Tak ketinggalan para pejabat terkait urusan agama hingga Presiden turut meramaikannya.

Kiblat.net berupaya mengumpulkan pendapat para tokoh terkait ide Islam Nusantara. Salah satunya adalah aktivis muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya. Berikut petikan wawancara Kiblat.net pada Rabu, (17/06) di bilangan Jakarta.

Akhir-akhir ini kita melihat media-media dan di beberapa kampus mulai sering digelorakan kampanye Islam Nusantara apakah memang ada agenda terselubung atau memang sekadar kebetulan saja?

Jadi ini adalah bagian dari upaya untuk membangun opini terkait dengan upaya-upaya seluruh dunia untuk menjauhi Islam, yang seolah-olah Islam itu digambarkan seperti yang terjadi di Timur tengah. Yaitu dengan membentuk seolah-olah ini (Islam Nusantara, red) adalah sebuah solusi Islam yang tepat, tidak seperti yang ada di Timur tengah.

Kalau di Indonesia namanya sekarang diusulkan Islam Nusantara. seolah-olah ide ini solusi yang terbaik bagi Islam seluruh dunia. Disuruh menyontoh, ini lho Islam nusantara. Dugaan saya mereka inginnya seperti itu. Jadi kalau mau mencontoh Islam yang baik, itu adalah Islam nusantara yang ada di Indonesia, itu secara umum.

Tapi secara khusus, ini kan ada huruf ‘nu’. Itu di pas-paskan. Kan bisa saja Islam Indonesia juga bisa. Kenapa tidak Islam Indonesia? Kenapa Islam Nusantara, karena di situ inisiatornya adalah berasal dari organisasi yang ada huruf ‘nu’, maka dinamakanlah Islam Nusantara.

Lazimnya, kalau tidak mau dikait-kaitkan dengan nama organisasi tentu lebih tepat adalah Islam Indonesia. kan begitu, jadi bukan Islam Nusantara lagi.

Kalau boleh berkelakar, apa usulan Anda?

Kalau saya boleh usul, misalkan saya dimintai pertimbangan lebih bagus nama apa, saya usulkan Islam Indonesia. Itu pun kalau saya setuju. Persoalannya kan saya tidak setuju. Saya tidak setuju pembentukan Islam Nusantara karena prinsip Islam itu adalah Islamlah yang mewarnai Indonesia atau mewarnai nusantara, bukan kebalikannya nusantara yang mewarnai Islam.

Apa perbedaannya?

Berbeda dong. ini seperti spare part mobil. kita kalu butuh spare part Honda ya kita ke Jepang. Kita butuh spare part VW kita ke Jerman. Kita butuh spare part GMC kita ke Amerika, dan seterusnya. Itu adalah model-modelnya. Jadi kita itu memiliki acuan-acuan, sumber-sumber. Yang namanya agama Islam itu lahir di Arab untuk seluruh dunia, rahmatan lil ‘alamin.

Kalau begitu, Islam Nusantara itu tidak bisa rahmatan lil alamin karena orang harus meniru cara Indonesia, seperti orang Indonesia. Mestinya Islam di Indonesia pun cocok untuk Islam yang lain, namanya universal kan.

Dengan demikian ini kan terkesan mengkotak-kotakkan, bahwa Islam itu tidak sama di seluruh dunia. Padahal nilai-nilai Islam dengan perilaku itu berbeda. Misalkan perilaku orang Islam di suatu negara.

Ini perilaku ya, berbeda dengan nilai. Nilai itu harusnya sama. Kita tidak boleh kemudian membohongi diri sendiri, seolah-olah kita itu menyesal telah memiliki agama bernama Islam, kemudian tidak cocok dengan kultur orang Indonesia. Kita tidak boleh seperti itu.

Faktanya adalah Islam terlahir di sana, tetapi untuk seluruh alam, rahmatan lil alamin, untuk semua manusia generasi mana pun. Islam adalah agama terakhir dan sudah ditulis dalam nash sebagai yang paling sempurna, tidak ada yang lebih sempurna dari itu. Itu yang pertama.

Yang kedua, tentu ide ini sangat janggal karena saya lihat pengusung ide Islam Nusantara itu justru dari orang yang memiliki kelompok yang memelihara “tradisi Arab”. yang suka bershalawatan rame-rame.

Itu bukan tradisi Islam Indonesia?

Bukan tradisi kita lah. Yang suka berzikir ramai-ramai, istighosah.. Lho ini mereka meniru gaya-gaya mana coba? Bahasanya, hurufnya, ini kan dari Al-Quran yang lahir di Arab. Kenapa zikirnya istighosahnya atau salawatannya tidak pakai bahasa Jawa? Ini kan berasal dari kelompok yang justru memelihara tradisi atau kebiasaan Arab, kemudian malah mengusulkan Islam yang hanya cocok untuk Indonesia. Tentu ini berbenturan.

Menurut saya ini tidak cocok dan janggal, jangan-jangan usulan ini adalah hanya untuk menggalang opini akan adanya even-even besar yang mereka miliki.

Ada indikasi ke arah situ?

Namanya penggalangan opini. Manajemen isu itu adalah sesuatu yang lazim dalam even-even tertentu yang dimiliki oleh organisasi. misalkan organisasi A mau mengadakan Munas, maka supaya masyarakat ikut terlibat secara emosional dengan Munas itu dibikinlah teaser-teaser, tahapan-tahapan opini, isu-isu supaya masyarakat ikut terlibat di dalam keinginan, visi misi tertentu. Nah tentu ini adalah sebagai bagian opini manajemen isu.

Jadi karena ini bertolak belakang dengan kultur lingkungan mereka, golongan mereka yang sesungguhnya memelihara tradisi-tradisi Arabic, ini tentu tidak pas, tidak klop. Mestinya yang mengusung Islam Nusantara itu adalah kelompok yang minim sekali mereka memelihara tradisi-tradisi kearaban.

Ada yang mengatakan konsep Islam Nusantara ini untuk melawan Arabisasi yang seolah-olah digembar-gemborkan sebagai ideologi transnasional?

Untuk level besarnya begini, nanti ide Islam Nusantara ini akan berbahaya misalkan nanti ada Islam Nusantara, ada Islam Malaysia, ada Islam Brunei, itu yang besar, makronya.

Yang lebih rumit lagi, ada Islam Medan, Islam Surabaya, Islam Jogja, Islam Kediri, Islam Madura. Lebih kecil lagi ada Islam Kecamatan A, kecamatan B. Lho ini kan ngeri paham yang seperti ini. Padahal Islam itu ya satu. Ini adalah prinsip. Islam itu satu.

Nah yang memungkinkan adalah mengIslamkan orang Jawa, mengIslamkan orang Medan, mengIslamkan orang Malaysia. Bukan sebaliknya memadurakan Islam, menjawakan Islam, memedankan Islam. Islam itu tidak bisa diubah. Islam itu sudah sangat sempurna, tidak mungkin dia diubah, dimodifikasi tidak mungkin.

Tapi soal perilaku beda lagi. Nilai-nilai Islam itu sama persis, tidak bisa diubah dan itu cocok dengan semua orang jika semua orang mengerti. Tapi persoalannya kan tidak semua orang paham. Nah, sekarang rahmatan lil alamin kadang-kadang disesatkan artinya.

Beberapa lembaga, misalkan saya lihat sekarang, BNPT misalkan atau pejabat-pejabat itu mengartikan rahmatan lilalaamin dalam perspektif yang sempit. Seolah-olah rahmatan lil alamin karena cocok untuk semua negara, kemudian setiap negara itu boleh memodifikasi Islam itu sendiri. Karena cocok kemudian boleh memodifikasi sendiri.

Ini seolah-olah Islam Indonesia itu ya seperti ini. Kalau pengajian pakai jilbab, kalau tidak pengajian perempuannya tidak usah pakai jilbab. Kemudian berbuat baik itu selama Ramadhan saja, kemudian situasi nuansa keIslaman itu kalau bulan-bulan yang suci saja atau hari-hari yang berkaitan dengan perayaan Islam saja, selain itu tidak perlu. Kita kembali ke budaya masing-masing.

Padahal, Islam datang itu kan untuk memperbaiki budaya seluruh dunia, bukan sebaliknya. jadi ketika Arab rusak, begitu ada Islam jadi baik. Indonesia mestinya sama, Indonesia rusak ada Islam jadi baik. Jangan dipelintir-pelintir dong, seolah-olah Islam tidak cocok. Indonesia jadi rusak karena Islam. Tidak begitu, ini manusianya.

Banyak sekali kadang dia beragama tapi tidak paham kitab sucinya, sehingga nilai yang diangkat adalah bukan nilai agama itu tapi nilai budaya yang dicampur dengan agamanya, lalu disebut abangan. Itu yang terjadi


Bak kelinci percobaan, umat Islam di Indonesia tampaknya tak pernah selesai diuji dengan wacana-wacana baru. Meskipun ide dasarnya merupakan pengulangan dari wacana yang telah usang, namun ide ini terus dikampanyekan secara massif. Kini, ide itu bernama Islam Nusantara.

Hanya saja kali ini, wacana Islam Nusantara dipikulkan kepada ormas Islam yang memiliki pengaruh cukup luas di tengah masyarakat Indonesia. Tak ketinggalan para pejabat terkait urusan agama hingga Presiden turut meramaikannya.

Kiblat.net berupaya mengumpulkan pendapat para tokoh terkait ide Islam Nusantara. Salah satunya adalah aktivis muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya. Berikut petikan wawancara Kiblat.net pada Rabu, (17/06) di bilangan Jakarta. Simak wawancara sebelumnya..

Ada beberapa kelompok yang sepertinya menjadi penumpang gelap dalam isu ini karena ada arahan Islam Nusantara ini ya Islam yang bukan Arab. Apa tanggapan Anda?

Ya memang Islam itu bukan Arab, maksudnya Islam itu bukan orang Arab. Makanya saya bilang Islam itu satu, ya Islam. orang Arab itu perilaku, berbeda. Tapi lahirnya Islam itu ada di Arab. Jadi Islam itu bukan Islam Arab, bukan Islam Indonesia. Orang Arab yang non-muslim juga banyak. Jadi kalau ada yang bilang Islam Arab salah besar, Islam itu ya Islam.

Tapi perkara orang Arab berperilaku tidak Islam, karena ini perilaku, dan nilai-nilai Islam itu untuk seluruh dunia, tidak mungkin kemudian kita bilang IslamArab-Islam nonArab, tidak ada. Islam itu ya Islam.

Nah kemudian, kenapa orang liberal dan lain sebagainya ini seolah-olah menumpang, itu karena mereka ingin mencari solusi agar kepentingan semua agama itu tidak berbenturan. Maka dibuatkan sebuah tag line seolah-olah semua agama itu sama, jadi semua agama itu benar. Itu kan yang mau mereka bangun sehingga orang tidak berkelahi karena adanya agama-agama.

Yang tidak mereka ketahui adalah agama itu hanya satu dan itu yang terakhir dan pasti paling sempurna. Bagaikan pabrik mobil, pabrik yang paling baik itu pasti produksi terakhir yang paling baik karena dia paling sempurna belajar dari kesalahan produksi sebelumnya. Ini sama dengan agama juga, Islam adalah terakhir, nabinya terakhir dan tidak ada yang berdiri setelah itu, tidak ada nabi setelahnya. Laa nabiyya ba’dah. Jadi setelah itu tidak ada lagi. Tidak ada agama baru, agama Islam terakhir nabinya terakhir, semua harus taat pada agama ini.

Karena tidak taat, tidak mengerti tentang agama ini maka dia mencoba untuk membangun kembali seolah-olah agama yang lampau, agama yang sudah diubah-ubah olah manusia itu seolah-olah agama yang masih benar. Padahal agama istilah ahli kitab dan sebagainya sudah tidak ada lagi. Agama nasrani, kristen katolik, konghucu ini adalah agama bikinan manusia, berdasarkan pernah ada kitab suci yang dia pegang tapi dia ubah-ubah sesuai zaman.

Maka tidak ada kitab suci yang lebih sempurna dari Al-Quran, yang bisa menjawab semua tantangan kecuali Al-Quran. Kalau anda mempelajari Al-Quran, tidak akan anda temui kedetailan Al-Quran itu dibanding kitab suci yang lain. Karena memang Al-Quran jadi kitab yang terakhir.

Kaum liberal ini mungkin saja diuntungkan dengan ide ini, tapi dalam prisip Islam ini tentu tidak benar. Karena mereka, saya yakin tidak memahami Al-Quran apa yang dimaksud dengan firman Allah SWT bahwa Islam sempurna, dan tidak ada yang lebih dari Islam dan tidak ada agama setelahnya, tidak ada nabi setelah muhammad, tidak da lagi yang lebih sempurna dari muhammad akhirnya kita harus percaya dan yakin bahwa satu-satunya agama yang benar adalah Islam.

Dahulu pernah ada istilah serupa dengan Islam Nusantara, yaitu Aktualisasi Al-Quran, bagaimana prediksi anda bisakah ide Islam Nusantara ini diterima oleh masyarakat?

Jadi ide itu boleh banyak, orang boleh membuat ide-ide baru. Tapi saya yakin tidak akan bertahan lama. Setiap zaman itu pasti ada orang yang memiliki ide-ide miring. Ide yang tidak sama. Seolah-olah unik, mereka pasti akan merasa seolah-olah ini ide baru. Tapi tidak akan pernah awet dan tidak akan pernah diterima masyarakat karena akhirnya masyarakat akan belajar dari kesalahan.

Misalkan kelompoknya Ulil mau berusaha kenapa kelompoknya itu-itu saja. Tidak berubah dan orangnya itu-itu saja. Masyarakat biasanya akan menolak setelah sadar.

Dan generasi antar generasi itu semuanya tidak mungkin akan mengikuti jalan yang sama. Misalnya begini, sekarang mungkin orang dalam satu keluarga anaknya tergoda dengan ide liberalisme, tapi nanti saat keluarga itu semuanya tentu tidak akan mengikuti dia. Dia akan belajar dari kesalahan-kesalahan saudaranya, akan seperti itu.

Begitu juga dengan kelompok-kelompok, mungkin ada kelompok yang mendukung liberalisme agama dan ormas tertentu yang seolah-olah mendukung ide-ide liberalisme agama. Tapi suatu saat generasi berikutnya dia akan memperbaiki. Secara organisasi ya, saya yakin (ide Islam Nusantara, red) ini pendapat pribadi, yang karena pribadi itu memiliki jabatan penting di situ, seolah-olah pendapat organisasi. Saya pikir tidak.

Menurut Anda ini pendapat pribadi yang dianggap sebagai pandangan organisasi?

Jadi bedakan antara pendapat pribadi dalam organisasi sebesar itu, dengan pendapat organisasi. Pendapat organisasi itu ditentukan oleh pleno, diputuskan dalam muktamar misalnya.

Ini hanya pendapat pribadi, kalau dalam organisasi misalnya Muhammadiyah, jarang sekali ada pendapat-pendapat yang kemudian rancu. Ini kan rancu sekali antara pendapat pribadi seorang ketua umum dengan lembaga yang dipimpinnya. Kalau sampai pendapat organisasi, korporasi, organisasi tertentu, tentu ini fatal. Karena masa sih pengurus yang segitu banyak mengelola organisasi Islam sebesar itu terjadi kesalahan kolektif. Tidak mungkin.

Saya pikir ini pendapat pribadi seseorang yang secara sadar memanfaatkan saja. Bukan menunggangi ya, tapi tadi dalam rangka penggalangan opini untuk tujuan-tujuan tertentu jangka pendek.  Anda tahulah untuk kepentingan apa. Mereka memiliki kegiatan terbesar apa dalam tahun ini, kita akan tahu lah. Jadi penggalangan opini untuk teasure pemanasan, nanti hilang juga itu. Tidak mungkin akan berlangsung lama, tidak akan permanen.

Artinya kita tidak perlu terlalu reaktif menanggapi wacana ini?

Tidak perlu, anggap saja itu angin lalu. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tidak perlu dianggap serius-serius karena biasanya dari kelompok-kelompok itu pula yang sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang nyeleneh. Jadi ini dedengkotnya sudah tidak ada, sudah meninggal, tapi muridnya masih banyak.

Saya tidak perlu menyebut namanya. Ada yang jadi menteri ngomongnya juga ikut nyeleneh, ada yang jadi pengurus organisasi tertentu ngomongnya nyeleneh. Inilah murid-murid bekas dedengkot-dedengkot yang sudah meninggal pada waktu sebelumnya, tapi muridnya ini belum bisa move on. Jadi mereka masih ikut sesat-sesat sedikit, tapi suatu saat generasi berikutnya akan memperbaiki, itu yang akan terjadi.

Sejak dulu ada tokoh yang nyeleneh kemudian mati, muncul generasi berikutnya memperbaiki. Akan begitu terus. Dan inilah ibrohnya, kita bisa mengambil pelajaran. Kalau tidak ada begitu kita tidak akan mengerti.

Jadi Islam Nusantara ini muncul supaya kita tahu seperti apa Islam yang benar.
syiah, Cyber Tauhid
UNTUK GURUKU UST ADI (MUHAMMADIYAH) DAN UST SOMAD (NU)
Oleh : Hilmi Firdausi
Afwan Ustadz, perkenalkan saya murid antum berdua di dunia maya, seringkali menyimak kajian keilmuan yang luar biasa, ditengah kegalauan banyak pemula yang sedang semangat mengenal agamanya.
Sungguh fenomena kembali kepada Islam, kembali kepada Qur'an dan sunnah begitu marak terutama di perkotaan. Majlis-majlis ilmun tumbuh subur, bahkan hingga ke gedung-gedung perkantoran. Para profesional berdasi kadang mengorbankan waktu break nya untuk mengikuti kajian dzuhur atau bahkan rela pulang lebih larut untuk mengikuti kajian ba'da Isya di Masjid yang tak jauh dari gedung kantornya. Ini kabar menggembirakan tentunya...
Kalau dulu Kafe dan Fitnes center adalah persinggahan utama menunggu kemacetan, kini kajian-kajian keilmuan islam menjadi alternatif pilihan. Kalau dulu weekend adalah adalah waktunya ngeMall bersama Keluarga, atau menginap barang semalam di Bandung atau Puncak, hari ini weekend adalaha waktunya menghadiri kajian rutin yang diisi ustadz-ustadz ternama.
Ustadz Adi, Ustadz Somad...jazakumullah khoiron katsiiro. Hanya itu yang dapat kami sampaikan kepada antum berdua...Antum hadir pada saat Ummat membutuhkan referensi yang lengkap tentang keislaman yang sedang dipelajarinya, jika saja antum telat hadir...bisa jadi akan terjadi friksi lebih tajam antara golongan Islam tradisional dengan saudara-saudara kita yang sedang belajar sunnah.
Dengan kecerdasan dan kelembutan Ust Adi membahas suatu masalah (terutama fiqih) dari 4 mazhab berbeda, dengan kelugasan penyampaian Ust Somad tentang suatu masalah keislaman, ditambah gayanya yang segar, humble dan jauh dari mentahdzir ulama lain...membuat kami-kami para pembelajar tercerahkan luar biasa, bahwa ternyata masih banyak Ilmu yang kami belum tau---dan terutama, kami yg tadinya bersu'udzhon kepada para tetua kami, menganggapnya ahlul bid'ah, agama warisan dsb menjadi beristighfar---bahwa apa yang tetua kami lakukan dulu jugalah memiliki dalil dan hujjah.
Flash back kebelakang, tak mungkinlah jika ulama sekaliber KH.Hasyim As'ari tak mengerti arti bid'ah. Juga tak mungkin ulama sehebat KH.Ahmad Dahlan tidak faham akan sunnah. Merekalah ulama-ulama besar yang faqih namun amat sangat bijaksana dalam menyebarkan Islam di tanah air tercinta. Buktinya---Ummat Islam di Indonesia adalah yang terbesar di dunia dengan tingkat konflik yang sangat minim. Tak bisa kita menafikan jasa-jasa ulama terdahulu terhadap perkembangan dakwah Islam di tanah air, termasuk Wali Songo.
Hari ini, Ust Adi Hidayat dan Ust Abdul Somad, saya melihatnya sebagai representasi terhadap Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama, dua Ormas Islam terbesar yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Republik ini. Sehat-sehat terus ya tadz...Kami selalu menunggu dakwah antum berdua, yang cerdas, segar, menyejukkan dan merekatkan ummat.
syiah, Cyber Tauhid
Segala keterbatasan tak menghentikan warga Palestina berinovasi untuk menghadapi penjajah Zionis Israel. Baru-baru ini, warga Gaza menemukan strategi baru; mengirim api ke wilayah Israel. Meski sangat kecil strategi ini bisa membunuh tentara Israel, namun mampu memberi pukulan ekonomi terhadap negara penajajah tersebut.

Seperti dilansir dari Reuters Arabic pada Senin (05/06), pejuang Palestina menggunakan senjata “layang-layang api” untuk menargetkan wilayah Israel. Senjata sederhana ini mampu membakar perkebunan, hutan dan pertanian penjajah Zionis.

Sa’id Syadi, satu dari lima pemuda Palestina pembuat layang-layang api, mengatakan bahwa munculnya strategi itu muncul secara spontan. Ia tidak pernah berpikir bahwa senjata itu mampu memberikan pukulan yang mengkhawatirkan Isrel.

Pemuda 19 tahun ini menjelaskan bahwa gagasan awal strategi ini sederhana; menggunakan alat paling sederhana untuk menyebabkan kerusakan dan menimbulkan korban pada pendudukan Israel.

Strategi itu dilakukan pejuang dengan menerbangkan layang-layang dari dalam wilayah Palestina yang berdekatan dengan tembok perbatasaan Israel. Layang-layang tersebut dipasang kain yang terbakar. Setelah terbang melintasi tembok, pejuang memutus tali layang-layang.

Syadi menjelaskan, bahan layang-layang diambil dari plastik putih transparan. Hal itu untuk menghindari pantauan dan deteksi pasukan Israel.

Dia menegaskan, akan terus mengirim layang-layang api ke wilayah Israel jika demonstrasi di perbatasan telah usai. Seluruh biaya pembuatan layang-layang diambil dari kocek pribadi.


Pemerintah Israel mengatakan bahwa tidak ada korban akibat serangan layang-layang api itu. Akan tetapi, serangan itu menyebabkan sekitar 2.250 hektar lahan yang sudah gersang dan cagar alam setelah musim dingin yang kering terbekar. Kerugian sementara diprediksi sebesar $ 2,5 juta.

Menteri Keamanan Publik Gilad Erdan mengatakan akan mengerahkan penembak jitu untuk menembak orang-orang yang mengirimkan layang-layang api.

“Saya berharap tentara Israel untuk berurusan dengan orang-orang ini, seperti berurusan dengan teroris, dan tentara juga harus menerapkan kebijakan pembunuhan yang ditargetkan terhadap mereka yang mengirim layang-layang api,” kata Erdan.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi
syiah, Cyber Tauhid
Ribuan warga Solo Raya mendeklarasikan #2019GantiPresiden di kawasan lapangan Kota Barat, Jl. Dr. Moewadi, Solo, Ahad (1/7/2018). Deklarasi itu berlangsung tepat setelah mereka melakukan jalan sehat di kota Solo.

Dimotori oleh Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), deklarasi itu dihadiri oleh Ketua DSKS ustadz Muinnuddinillah Basri, Ketua LUIS Ustadz Edy Lukito, Neno Warisman, dan pencipta lagu #2019GantiPresiden, Joni Sang Alang.

Deklarasi dibacakan oleh Neno Warisman. Dalam orasinya, ia menyampaikan sikap keprihatinan atas kondisi rakyat Indonesia, yang masih dikelilingi oleh permasalahan sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan sebagainnya.

“Kami relawan nasional #2019GantiPresiden, dengan ini menyatakan sikap keprihatinan atas kemiskinan, ketidakadailan, ketidakperpihakan, dan ancaman terhadap kedaulatan serta krisis kepemimpinan yang terjadi saat ini di bumi NKRI”, Ucap Neno Warisman, sembari diikuti oleh ribuan warga Solo Raya.

Oleh karena itu, Neno berpesan kepada para peserta untuk ikut bejuang bersama rakyat, demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik, berdaulat, bermartabat, adil, makmur dan berahlak mulia. Dengan mengawal jalannya Pemilu Presiden 7 April 2019 mendatang, supaya mewujudkan pergantian kepemimpinan Indonesia.

Usai membacakan deklarasi, Kain bertuliskan #2019GantiPresiden diterbangkan keudara dengan menggunakan beberapa balon. Dengan diiringi lagu #2019GantiPresiden, para peserta terlihat mulai meninggal kan lokasi tepat pukul 10.00 WIB.





Reporter: Usamah Rabbani
Editor: Fajar Shadiq
syiah, Cyber Tauhid
Momentum Idul Fitri kali ini memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang, termasuk diantaranya  orang-orang yang termasuk kategori   “dibalik layar”. Alhamdulillah dalam liburan Idul Fitri ini saya juga mendapatkan kesempatan  untuk sedikit membuka lembaran sejarah kejayaan peradaban Islam di masa lampau.

Pernah mendengar ungkapan “Kuasailah Informasi maka engkau akan kuasai dunia?”, ungkapan ini bukan hanya dipromosikan oleh futurolog seperti John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam buku mereka ‘Megatrend 2000’ yang begitu terkenal di era 90an, namun juga sudah dipraktekkan oleh Bani Umaiyyah dalam mentahlukkan Andalusia di benua Eropa. Dengan keunggulan di bidang penguasaan  strategi, teknologi dan informasi, dinasti Bani Umayyah mampu menguasai seluruh wilayah yang ada di Jazirah Arabia, Afrika Utara, Asia Tengah dan Asia Selatan hingga Eropa.

Tercatat dalam  sejarah, atas permintaan dari warga Andalusia yang ditindas oleh raja Roderick, Kahlifah Al Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah  bermaksud untuk mengirimkan  ekspedisi untuk membebaskan Andalusia.  Sebelum bergerak menaklukkan Andalusia, Khalifah Al Walid bin Abdul Malik memberikan instruksi untuk mengirim pasukan intelijen tempur atau talailah untuk melakukan pengintaian terhadap musuh  dan pengkondisian wilayah  sasaran.

Dengan dukungan De Graff Julian, seorang pemimpin lokal yang tidak puas dengan gaya kepemimpinan  Raja Roderick yang lalim, Tharif bin Malik  bersama sekitar empat ratus orang pasukan berhasil menyelinap ke wilayah Andalusia untuk mencari berbagai informasi mengenai kekuatan yang dimiliki musuh sekaligus melakukan operasi clandestine untuk mempersiapkan kedatangan pasukan utama  dengan kekuatan yang lebih besar.

Keberadaan pasukan talailah ternyata cukup efektif, setelah semua informasi yang dibutuhkan tersedia dan daerah sasaran terkondisikan, barulah dikirim pasukan utama di bawah komandan Thariq bin Ziyad, yang melakukan pendaratan melalui sebuah selat yang kemudian dikenal dengan sebutan Jabal Thariq atau Giblaltar.

Perkembangan intelijen modern  saat ini telah berkembang jauh lebih pesat dibandingkan masa lampau. Tidak hanya sekedar  analisa dan pengolahan data untuk pengambilan  keputusan bisnis, dengan operasi intelijen bisnis yang dikelola dengan baik, suatu entitas bisnis atau bahkan negara agresor bisa menguasai sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh negara lainnya tanpa harus menguasai secaa fisik negara sasaran.

Dalam dunia intelijen dikenal istilah cover atau penyamaran. Tujuan penggunaan cover dalam operasi intelijen secara prinsip adalah agar aktivitas intelijen tersebut tidak diketahui musuh dan  keberadaan tim intelijen bisa diterima oleh target operasi. Dalam kisah penaklukkan Andalusia, sebagai cover (kedok) dari operasi intelijen yang dilakukan  Tharif bin Malik bersama pasukannya  adalah De Graff Julian sebagai kolaborator dan penyedia dukungan  logistik. Lalu bagaimana dengan era globalisasi  seperti sekarang ini?

Kemajuan  ilmu pengetahuan dan teknologi informasi  seperti sistem big data, komputasi cloud dan sebagainya mendorong aktivitas intelijen bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja.  Keberadaan perusahaan penyedia teknologi juga merupakan cover intelijen yang bagus dalam pengunpulan informasi dan analisa data.

Berbagai  laporan menyebutkan, Amerika Serikat merupakan pelopor spionase global dengan memanfaatkan Google sebagai salah satu penyuplai teknologi dan data untuk kepentingan intelijen mereka. Coba Anda bayangkan,  saat ini hampir semua data pribadi dan aktivitas masyarakat modern  bisa di akses oleh Google melalui HP android yang masing-masing kita miliki. Termasuk kapan kita bangun, pergi kemana kita hari ini, atau bahkan menu makanan favorit kita apa saja.

Tidak hanya perusahaan raksasa yang bisa digunakan sebagai cover intelijen, bahkan perusahaan startup lokal yang baru seumur jagung  sangat mungkin menjadi selubung operasi intelijen dari negara asing guna menguasai potensi pasar Indonesia yang sangat besar dengan populasi penduduk ke empat terbesar di dunia.

Saat ini banyak perusahaan venture asing  yang berburu start-up bisnis dari  Indonesia, untuk dibiayai dan dibesarkan. Sebagai contoh adalah berita heboh perusahaan jasa transportasi online lokal yang disuntik investasi 16 Miliar dolar dari negeri komunis Tirai Bambu.  Tidak berselang lama kemudian,  perusahaan transportasi online ini bertransformasi menjadi salah satu raksasa penyedia platform e-money di Indonesia.  Disatu sisi hal ini  tentu sangat membanggakan namun, namun disisi lain juga mengkhawatirkan, karena  sangat mungkin  itulah pintu masuk  kepentingan asing dalam memata-matai dan menguasai sektor ekonomi Indonesia.

Lalu bagaimana dengan kita? Tentu kita harus waspada namun juga tidak boleh larut dalam ‘penyakit paranoid’ terhadap investasi asing. Bagi para pebisnis pemula, sepertinya sudah saatnya untuk  mencari juga investor yang ‘seide dan sefaham’ dengan pemikiran dan prinsip hidup dan keyakinan kita. Dan bagi yang diberikan kelebihan rizki, sudah saatnya  untuk berinvestasi  ke start-up milik anak bangsa yang memiliki potensi untuk dikembangkan  bukan lagi ‘memarkirkan dana’  ke Bank konvensional.

Penulis: Safari Hasan, S.IP, MMRS (Direktur Qualita Insani Foundation)
syiah, Cyber Tauhid
Bismillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya.
Banyak pertanyaan seputar makna syar'i Fi Sabilillah yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulillah shallallahu 'alaihi wasallam. Karenanya harus ada upaya menjelaskannya secara gamblang menurut pemahaman pada Salafus Shalih Ridwanullah 'alaihim.


Infak Fi Sabilillah
Kita awali pembahasan ini dengan sebuah ayat yang sering disalah pahami,
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195)
Sebab turunnya ayat ini yaitu ketika para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari kaum Anshar mulai enggan berinfak untuk Jihad fi sabilillah dan mereka lebih mengutamakan urusan pertanian mereka untuk memperbaikinya dan meninggalkan jihad, maka datanglah larangan dari Allah Ta'ala sebagaimana yang dijelaskan Abu Ayyub al-Anshari dalam sebuah hadits. Karenanya, makna menjerumuskan diri ke dalam kehancuran adalah sibuk mengumpulkan harta dan mengurusinya serta meninggalkan jihad. (HR. Muslim, al-Nasai, Abu Dawud dan al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dari jalur Aslam bin 'Imran. Lihat Fathul Baari, Kitab al-Tafsir, VIII/185. Dan keterangan lebih lanjut silahkan  
Imam Bukhari menjelaskan dalam shahihnya tentang ayat di atas, "Ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan nafaqah (infak). Kemudian dijelaskan oleh Ibnul Hajar dalam Fathul Baari tentang ucapan Imam al-Bukhari di atas, yaitu meninggalkan infak fi sabilillah 'Azza wa Jalla. (Fathul Baari: VIII/185)
Makna yang serupa dengan ayat di atas juga terdapat dalam firman Allah,
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya fi sabilillah (di jalan Allah. . ." (QS. Al-Baqarah: 261) melalui penafsiran Ibnu Abbas dan Makhul radliyallah 'anhum. Ibnu Abbas berkata, "Dalam jihad dan haji, maka dirham yang diinfakkan dalam keduanya akan dilipatgandakan menjadi 700 kali lipat. Karena inilah Allah Ta'ala berfirman, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji . . ."
Makhul berkata, "Yakni berinfak dalam urusan jihad, seperti menyiapkan kuda yang ditambat untuk berperang, menyiapkan persenjataan, dan selainnya." (Lihat tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut).
Hijrah dan Jihad
Sebagaimana yang firman Allah Ta'laa:
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً
"Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak." (QS. Al-Nisa': 100)
Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa Fadhalah bin Ubaid al Anshari, salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam- melewati dua jenazah. Salah seorang mereka meninggal dunia dalam medan perang terkena lemparan Manjanik dan seorang lainnya, meninggal (bukan karena serangan musuh). Orang-orang condong mengerumuni kuburan seorang yang terbunuh tadi, sementara Fadhalah duduk di sisi kuburan orang yang meninggal satunya. Lalu dikatakan kepada Fadhalah, "Engkau meninggalkan orang yang syahid dan tidak duduk di sisinya?" kamudian Fadhalah menjawab, "Aku tidak perduli akan dibangkitkan dari dua kuburan mana. Sesungguhnya Allah berfirman,
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُدْخَلًا يَرْضَوْنَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ حَلِيمٌ
"Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun." (Tafsri IbnuKatsir III/201. Kisah ini juga diriwayatkan Ibnul Mubarak dalam kitabul Jihad)
Kalau kita perhatikan dalam kitabullah, kita dapatkan bahwa kalimat hijrah dan jihad sering bergandengan. Berikut ini beberapa hadits Rasulillah shallallahu 'alaihi wasallam yang menjelaskan bahwa hijrah itu untuk jihad.
Dari Abil Khair, Junadah bin Umayyah menyampaikan kepadanya bahwa beberapa laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berincang-bincang. Salah seorang mereka berkata, "Sesungguhnya hijrah telah selesai." Lalu mereka berbeda pandangan tentang hal itu. Kemudian Junadah pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Ya Rasulallah, sesungguhnya orang-orang berkata bahwa hijrah telah selesai. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya hijrah tidak akan terputus selama jihad masih ada." (Hadits shahih riwayat Ahmad)
Dari Abdullah bin Umar radliyallah 'anhuma berkata, Kami datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Para sahabatku masuk terlebih dahulu dan menyampaikan hajatnya, sementara aku pada urutan terakhir. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apa hajatmu?" Aku menjawab, "Ya Rasulallah, kapan hijrah selesai?" Beliau menjawab, "Hijrah tidak akan terputus selama orang kafir masih diperangi." (HR. Nasai dan Ahmad)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda, 'Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, namun yang ada adalah jihad dan niat. Apabila kalian diperintahkan berjihad, maka keluarlah berjihad'." (HR. Muslim)
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Maksud tidak ada hijrah sesudah al-Fathu (penaklukan) adalah Fathu Makkah. Al-Khathabi dan lainnya berkata, "Hijrah adalah kewajiban diawal Islam bagi orang yang telah masuk Islam karena sedikitnya jumlah kaum muslimin di Madinah dan kebutuhan untuk bersama-sama. Ketika Allah sudah menaklukkan Makkah, maka manusia masuk Islam dengan berbondong-bondong. Karenanya, kewajiban hijrah ke Madinah telah habis dan hanya tersisa kewajiban jihad dan niat bagi orang yang melaksanakannya atau ketika musuh masuk menyerang."
Imam al-Thibbi rahimahullah dan lainnya berkata, "Bahwa hijrah yang bermakna meninggalkan negeri yang telah ditentukan (Makkah) menuju Madinah telah selesai, hanya saja meninggalkan negeri karena jihad akan tetap ada."
Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Sesungguhnya kebaikan yang terputus dengan selesainya hijrah dari Makkah menuju Madinah bisa diperoleh dengan jihad dan niat yang baik. . . (Fathul Baari: VI/38-39)
"Fi Sabilillah" Menurut Pemahaman Salafus Shalih
Kita wajib menafsirkan Al-Qur'an dan Sunnah dnegan pemahaman para Salafus Shalih. Artinya, istilah-istilah ini harus kita sesuai dengan pemahaman orang-orang yang memiliki istilah tersebut. Misalnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan salah satu kelompok penerima zakat adalah fi sabilillah. Kalimat ini secara bahasa maknanya global, yaitu setiap amal yang dilakukan seseorang untuk mendapat pahala dari Allah. Dari sini, seseorang yang memberi makan (menafkahi) istrinya dengan mengharap pahala dari Allah termasuk fi sabilillah. Seseorang yang makan makanan dengan niatan untuk menguatkan badannya guna ibadah kepada Allah juga termasuk fi sabilillah. Maka apabila kita tafsirkan kalimat fi sabilillahseperti itu, maka seseorang boleh memberikan zakat kepada istrinya dengan niatan berharap pahala dari Allah, dan sudah termasuk fi sabilillah. Penafsiran secara linguistik atau lughawi semacam ini bisa menyebabkan kekufuran karena tidak boleh seseorang memberikan zakat untuk dirinya sendiri atau istrinya. Dan ini akan bisa merusak agama Allah.
Karenanya, dalam menafsirkan lafadz lughawi wajib mengembalikan dan mengikatnya dengan pemahaman generasi awal umat ini dan membatasinya dengan makna yang berlaku di tengah-tengah mereka.
Lalu apa pembatas dan ikatan yang digunakan syari'at dalam memaknakan kalimat "fi sabilillah?" pembatas dan pengikatnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Dirham yang engkau nafkahkan untuk dirimu sendiri, dan dirham yang engkau nafkahkan untuk istrimu, dan dirham yang engkau nafkahkan fi sabilillah. . . " dari sini kita pahami bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah membedakan antara apa yang dimakan sendiri oleh seseorang dan apa yang dinafkahkannya untuk istrinya serta apa yang dia infakkan fi sabilillah (di jalan Allah). Jadi, menurut istilah syari'at, apa yang dia nafkahkan untuk istrinya bukan termasuk fi sabilillah, walaupun menurut bahasa dia masuk kategori fi sabilillah.
Apa makna istilah yang berlaku di kalangan ulama salaf ketika mereka mengucapkan kalimat "fi sabilillah"? Apa makna yang berlaku dikalangan sahabat ketika mereka mengucapkan kalimat "fi sabilillah"? Kemudian ikatan apa yang ditentukan oleh syariat terhadap lafadz ini ketika kita mengucapkan "fi sabilillah"? jawabannya adalah jihad fi sabilillah. Inilah pendapat yang tepat dalam masalah ini.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memperluas masalah ini ketika ditanya, "Apakah boleh seseorang memberikan hartanya dari zakat mallnya untuk berhaji? Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Haji adalah fi sabilillah." Karenanya, kalimat fi sabilillah dipakai untuk haji dalam kondisi ini saja, tidak dalam setiap kondisi. Para sahabat bertanya tentang haji, karena mereka memahami haji, pada dasarnya, bukan termasuk fi sabilillah. Lalu mereka bertanya tentang haji, bolehkan berinfak untuk haji? Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Haji adalah fi sabilillah." Karenanya, dalam kondisi ini haji termasuk fi sabilillah dan haji tidak selamanya masuk dalam kalimat fi sabilillah menurut Al-Qur'an dan Sunnah, karena adat yang berlaku dikalangan sahabat dalam memahami fi sabilillah adalah jihad. (Disarikan dari khutbah Syaikh Abu Qatadah al Falisthini dengan judul 'Urf al-Shahabah fii fahmi Al-Qur'an)
. . . karena adat yang berlaku dikalangan sahabat dalam memahami fi sabilillah adalah jihad.
Menurut Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah, "Adapun kalimat Fi Sabilillah memiliki makna syar'i sendiri, yaitu qitaal (perang). Karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
لَغَدْوَةٌ أَوْ رَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
"Sungguh pagi-pagi hari atau sore hari berangkat berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) dari sini, engkau keluar dari masjidmu lalu mendakwahi manusia termasuk fi sabilillah ... tidak, ini  termasuk mengeluarkan nash-nash dari maknanya yang syar'i. Makna pergi pagi-pagi atau di sore hari di jalan Allah adalah pergi pagi-pagi atau pada sore hari  ke peperangan, itu lebih baik dari dunia dan apa saja yang ada di dalamnya.
Makna pergi pagi-pagi atau di sore hari di jalan Allah adalah pergi pagi-pagi atau pada sore hari  ke peperangan, itu lebih baik dari dunia dan apa saja yang ada di dalamnya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,


مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa yang tumbuh satu uban fi sabilillah (di jalan Allah), dia akan memiliki cahaya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, al-Nasai, dan al-Baihaqi dalam Sunan Kubranya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Shahihah, no. 2555) maknanya adalah di jalan jihad, yang sampai beruban karena menghadapi hiruk pikuk jihad.
Rasullullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ بِذَلِكَ الْيَوْمِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
Barangsiapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah (di jalan Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka dengan puasanya tersebut sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Ahmad, Nasai, Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan al-Nasai, no. 2245) maknanya adalah di jalan jihad, puasa di dalam jihad. Jika tidak demikian maknanya, maka puasa orang muslim yang benar adalah fi sabilillah.
Kalau begitu, kalimat fi sabilillah, apabila dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai makna tunggal adalah perang. (Tarbiyah Jihadiyah, Syaikh Abdullah Azam, II/117-118)
Kalau begitu, kalimat fi sabilillah, apabila dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai makna tunggal adalah perang.
Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Apabila kalimat fi sabilillah disebutkan secara global di dalam Al-Kitab dan Sunnah, akan bermakna jihad.” (Tafahiim al-Bukhari: II/80. Disebutkan oleh Syaikh Al-Mujahid Azhar dalam kitabnya Fadhail al-Jihad, hal. 56)
Ibnu Rusyd rahimahullah dalam Bidayatul Mujtahid menyebutkan, “Apabila kalimat fi sabilillah disebutkan secara global akan bermakna jihad.” 
Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Ibnul Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari, bahwa kalimat fi sabilillah jika disebutkan secara global, pasti bermakna jihad.
Ibnul Jauzi berkata, “Apabila fi sabilillah disebutkan secara global, maka maksudnya adalah jihad.” (disebutkan oleh Ibnul Hajar dalam Fathul Baari)
Ibnu Daqiq al-‘Ied rahimahullah berkata, “Kebiasaan yang paling sering dalam pemakaiannya (fi sabilillah) adalah dalam jihad.” (Disebutkan dala fathul Baari jilid VI)
Al-Sarkhasi berkata, “Secara global, dipahami darinya (maksud fi sabilillah) adalah jihad.” Disebutkan sendiri oleh al-Sarkhasi dalam Syarah al-Siyar al-Kabir, jilid VI)
Imam Nawawi rahimahullaah berkata, “Secara dzahir maknanya (hadits pergi berjihad di pagi dan sore hari) tidak khusus pada pergi di waktu pagi dan sore hari dari negerinya, tapi pahala ini akan diperoleh pada setiap pagi dan sore hari dalam perjalanannya menuju peperangan. Begitu juga berada di medan peperangan pada waktu pagi dan sore hari, karena semuanya dinamakan fi sabilillah.” (Syarah Shahih Muslim, jilid ke-13) yakni dengan menggabung makna: Di jalan menuju perang dan di medan peperangan itu sendiri. (Dinukil dari Tarbiyah Jihadiyah wal Bina, DR. Abdullah Azam, II/118)
Makna Jihad
Jihad secara bahasa adalah bersungguh-sungguh, berberat-berat, dan bercapek-capek. Adapun menurut syar’i, maknanya adalah qital (perang).
Dari Amru bin ‘Anbasah radliyallaahu 'anhu berkata, ada seorang laki-laki bertanya, “Hijrah apa yang paling utama?” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Jihad.” Dia bertanya lagi, “Apa itu jihad?” beliau menjawab, “Engkau memerangi orang kafir apabila engkau bertemu dengannya.” Dia bertanya lagi, “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjwab, “Siapa yang mengorbankan seluruh hartanya dan dialirkan darahnya.” (Disebutkan secara ringkas dari hadits shahih yang panjang yang marfu’ kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Imam al-Shan’ani berkata, Jihad adalah bentuk masdar dari jaahadta jihaadan, artinya telah sampai pada puncak bersusah-susah. Ini adalah makna lughawi. Sedangkan menurut syar’i, “Mengerahkan seluruh kemampuan/kesungguhan dalam memerangi orang kafir atau pemberontak.” (Subulus Salam: IV/41)
Ibnu Rusyd berkata, “Setiap orang yang mencapekkan dirinya dalam beribadah kepada Allah, sungguh telah berjihad di jalan-Nya. Hanya saja, bahwa jihad Fi Sabilillah apabila disebutkan secara global tidak berlaku kecuali pada memerangi orang-orang kafir dengan pedang sehingga mereka masuk Islam atau menyerahkan jizyah.” (Lihat ‘Umdah al Fiqh hal. 166 dan Muntaha al-Iradaat: I/302)
Setiap orang yang mencapekkan dirinya dalam beribadah kepada Allah, sungguh telah berjihad di jalan-Nya.
Hanya saja, bahwa jihad Fi Sabilillah apabila disebutkan secara global tidak berlaku kecuali pada memerangi orang-orang kafir dengan pedang sehingga mereka masuk Islam atau menyerahkan jizyah.
Ibnu ‘Arafah al-Maliki berkata, “Jihad adalah perangnya orang Islam terhadap orang kafir yang tidak memiliki ikatan perjanjian, untuk meninggikan kalimat Allah atau bertemu dengannya (di medan perang) atau dia memasuki negerinya (orang muslim).” (Haasyiyah Al-Banani ‘ala Syarah khalil II/106)
Ibnu Najam al Hanafi berkata, “Jihad adalah menyeru kepada agama al-Haq (Islam) dan berperang terhadap orang yang tidak mau menerima (menyambut seruan) dengan jiwa atau harta.” (Al-Bahru al-Raa’iq: V/76 juga dalam Fathul Qadiir milik Ibnu Hammam: V/187)
Imam al-Syairazi  berkata, “Jihad adalah qital (perang).” (Al-Muhadzab: II/227)
Imam al-Baajuuri al-Syaafi’i berkata, “Jihad: maknanya perang di jalan Allah." Lalu Ibnul Hajar berkata, “Dan menurut syara’: mengerahkan kesungguhan di jalan Allah.” (Fathul Baari, jilid VI)
Syaikh Abu al Mundzir al-Saa’idi hafidzahullah berkata, “Setiap kata jihad yang disebutkan oleh nash tentang makna jihad dengan selain makna ini (qital/perang) harus disertakan qarinah (keterangan) yang menunjukkan makna yang dimaksud. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
"Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengannya (Al-Qur'an) dengan jihad yang besar." (QS. Al-Furqan: 52) Qarinahya kata ganti dalam Bihi yang kembali kepada Al-Qur’an dan juga ayat ini adalah Makkiyah, pada saat itu belum disyariatkan jihad.
Contoh lainnya dalam sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, ففيهما فجاهد, “Pada keduanya kamu berjihad”, ditujukan bagi laki-laki yang datang kepada beliau ingin berjihad. (Mutafaq ‘alaih dari Abdillah bin Amru radliyallaahu 'anhu.
Mencapekkan diri dengan mengurusi kedua orang tua disebut jihad ditinjau dari masalah yang akan ditimbulkan ketika dia pergi berjihad dengan meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah tua, setelah minta izin kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Seolah-olah ada kiasan di antara keduanya, bahwa fungsi dari jihad adalah menghilangkan bahaya yang ditimbulkan musuh sedangkan mengurusi orang tua mendatangkan manfaat terhadap orang tua.
Bahwa kalimat jihad, apabila disebutkan secara global dalam kitabullah dan Sunnah Nabishallallaahu 'alaihi wasallam dan perkataan fuqaha’, maka dibawa kecuali kepada perang.
Abu Qatadah al-Falisthini berkata, “Ijma’ itu terakui sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rusyd. Bahwa kalimat jihad, apabila disebutkan secara global dalam kitabullah dan Sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan perkataan fuqaha’, maka tidak dibawa kecuali kepada perang. Walau kalimat jihad secara bahasa bermakna mengerahkan kesungguhan dalam rangka menggapai sesuatu atau menolak sesuatu, yang diikat fi sabilillah untuk menunjukkan membela Allah. Kalau begitu, segala sesuatu yang diusahakan seseorang untuk menggapai sesuatu dengan niatan mendapat ridla Allah masuk dalam pengertian jihad secara bahasa. Namun, tidak boleh dijadikan makna pokok. Karenanya, tidak boleh menggunakan makna umum ini untuk menyebut jihad. Seharusnya makna lafadz jihad fi sabilillah dibawa kepada makna yang dipahami dan berlaku penggunaan oleh generasi awal umat ini. Wallahu a’lam bil shawab.
(PurWD/voa-islam.com)
Ditulis oleh Zaid Mahmud dari Majalah Nida’ul Islam. Diterjemahkan dengan sedikit tambahan oleh Badrul Tamam.

VIDEO

KRISTENISASI

SYIAH

LIBERAL